Hiphop, Diplomasi yang Datang dari Jalanan
Program Next Level di Bantul menunjukkan jejak diplomasi hiphop sebagai medium ekspresi generasi muda dan dialog budaya lintas negara.
Pengantin tebu saat dikirab dalam acara Cembengan di Pabrik Gula Madukismo, Jumat (29/4/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Madubaru akan menggiling setidaknya 550.000 tebu
Harianjogja.com, BANTUL -- Pabrik gula dan spiritus PT Madubaru kembali memulai masa penggilingan tebu. Ditandai dengan ritual Cembengan di kompleks pabrik, di kawasan Padokan, Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Jumat (21/4/2017), masa penggilingan tebu untuk memproduksi gula kembali digelar oleh perusahaan pemasok gula terbesar untuk wilayah DIY dan Jawa Tengah bagian selatan ini.
Direktur PT Madubaru KRT Madu Gondo Diningrat menjelaskan, penggilingan itu rencananya akan dimulai Sabtu (6/5/2017). Proses penggilingan yang diperkirakan berlangsung selama 160 hari itu rencananya akan memanfaatkan sekitar 550.000 batang tebu.
“Tak hanya dari kebun di DIY saja, tebu-tebu itu juga dipasok dari daerah lain, seperti Magelang, Temanggung, Purworejo, Kebumen, Sragen, dan Purbalingga. Semuanya dari tebu kemitraan dan tebu rakyat,” katanya saat ditemui di sela berlangsungnya Cembengan.
Dengan asumsi rendemen rata-rata 7,15 persen, Madu Gondo memperkirakan jumlah total gula yang akan dihasilkan mencapai 39.325 ton. Sementara untuk raw sugar sebanyak 23.500 ton.
Sementara terkait dengan ritual Cembengan sendiri, Koordinator Acara Alex Khomsa menjelaskan, tradisi tersebut diawali dengan proses akad nikah sepasang tebu. Kedua tebu yang dinikahkan itu adalah Kyai Sukro dan Nyai Manis.
Sepasang pengantin tebu ini menjalani prosesi akad nikah di Masjid An-Nuur yang terletak di sebelah timur kawasan pabrik. Setelah itu diarak menuju pabrik. Nama Kyai Sukro merujuk hari Jum'at. Adapun Nyai Manis merujuk Legi. “Sepasang pengantin tebu ini diijabkan dulu sebelum digiling,” jelasnya.
Sepasang pengantin tebu inilah merupakan tebu pertama atau cucuk lampah yang bakal dimasukkan dalam mesin pada masa penggilingan tahun ini. Menurut Alex, tradisi ini juga mengandung makna filosofi. Yakni, agar produksi tanaman tebu para petani pada musim tanam berikutnya melimpah. “Semoga masa penggilingan tahun ini diberikan kemudahan dan kelancaran,” harapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dispar Bantul menyiapkan penataan lanjutan PKL Pantai Parangtritis melalui surat edaran. Pedagang diminta membongkar lapak yang melanggar aturan.
Mahasiswa perlu mendapatkan pemahaman SNI dan mendorong lulusan memiliki sertifikat kompetensi agar siap bersaing di dunia kerja.
Kimaya Sudirman Yogyakarta by HARRIS kembali menghadirkan berbagai penawaran spesial bagi pasangan yang ingin mewujudkan pernikahan impian.
Said Iqbal mengusulkan penghapusan pajak JHT, THR, dana pensiun, dan pesangon kepada Menteri Keuangan demi meningkatkan kesejahteraan buruh.
PM India Narendra Modi berjanji kembali ke Indonesia sebelum 2029 untuk meresmikan Candi Prambanan setelah restorasi bersama rampung.