UMKM KULONPROGO : Sentra Kerajinan Pelepah Pisang di Sentolo

Kerajinan pelepah pisang di Sentolo (Uli Febriarni/JIBI - Harian Jogja)
30 April 2017 14:22 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

UMKM Kulonprogo mengenai pemanfaatan pelepah pisang.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Bagian pohon pisang yang bisa dimanfaatkan bukan hanya buah dan daun, melainkan pelepah. Bahkan kriya dari pelepah pisang yang dikeringkan, bisa membuat produk memiliki harga tinggi.

Perajin pelepah ini ada di Desa Tuksono, Sentolo. Berada di pinggiran jalan, jalur menuju lokasi wisata Sendang Kamulyan. Tiwuk menjadi salah satu perajin pelepah pisang ini, bersama suami.

Usaha yang ia buka adalah membuat beragam kerajinan pernak-pernik rumah. Ia memulai usaha ini sejak sepuluh tahun lalu. Pelepah pisang kering yang sudah dipilin dan siap dibentuk menjadi beragam kriya, berasal dari supplier khusus. Ia memesan pelepah pilin dengan beragam ukuran.

Dari sana, ia bersama perajin lainnya, membuatnya menjadi keranjang laundry dan berbagai kotak cantik multiguna. Di showroomnya itu, ia juga yang melakukan pengeleman, pembuatan gagang kotak, pengolesan zat anti jamur, dan penjemuran serta finishing.

"Kebanyakan peminatnya dari luar negeri, saya tidak hafal negara mana saja. Yang jelas banyak, ada yang langsung pesan, ada yang mereka memperlihatkan contoh referensi bentuk," kata dia, ditemui Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Awal usaha, ia hanya mampu memproduksi 100 buah produk. Namun saat ini ia mampu membuat 100 sampai 200 set produk keranjang dan kotak per bulan. Satu set produk berisi tiga sampai enam unit kotak terbuat dari pelepah pisang. Produk ini dibanderol Rp200.000-Rp300.000 per set.

"Kami menjual lewat pihak ketiga, kurang tahu mereka menjual berapa ke pelanggan. Itu sudah wewenang mereka," ungkapnya.

Tiwuk belum berani melabelkan produk hasil karnya dengan merk pribadi. Alasannya, prosedur yang tidak mudah, dan pelanggan di luar negeri yang belum tentu mau membelinya, karena minimnya pengalaman dirinya bersinggungan langsung dengan pembeli.

Sebagai pengusaha, ia juga cukup rajin mengikuti pembinaan dan seminar kewirausahaan yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, tentu bila dirinya memiliki waktu luang, di sela mengurusi produknya.

Sukses menjual produk berbahan alam ke dunia internasional, ia seakan tak ingin lupa memberdayakan masyarakat setempat. Dibuktikan dengan merangkul 100 hingga 200 orang pekerja, yang berasal dari dalam Kulonprogo, untuk mengerjakan produk di rumah mereka masing-masing.

Hanya saja ia mengakui, kalau pada awalnya ia memberikan kesempatan itu kepada tetangga terdekat, kini ia memilih produknya dikerjakan warga yang tinggal agak jauh dari rumahnya.

"Mereka mampu mengerjakan lebih cepat," tuturnya.