WISATA BANTUL : Rumah Hobbit di Songgo Langit

01 Mei 2017 09:22 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Wisata Bantul di Mangunaan

Harianjogja.com, BANTUL -- Tak perlu dolan jauh ke Hobbiton Selandia Baru, Taman Kelinci Malang, ataupun Farmhouse Lembang karena kini rumah hobit sudah diboyong ke Mangunan. Rumah imaji J. R. R Tolkien tersebut tersebut kini mudah ditemukan di akun-akun instagram pemburu wisata Jogja.

Baca Juga : WISATA BANTUL : Mangunan Sumbang PAD DIY Rp116 Juta Lebih

Tepat di sisi kanan jalan menikung menuju Pinus Sari, beberapa bus wisata dan mobil pribadi berderet rapi. Tempat parkir kawasan wisata Seribu Batu Songgo Langit tersebut masih nampak baru, bertanah merah dilapisi pecahan batuan putih. Untuk memasuki kawasan wisata, pengunjung harus turun melewati jalan menikung yang cukup curam. Pagar dari jalinan kayu dipancang di kanan kiri jalan. Pengunjung cukup membayar Rp2000 untuk tiket masuk dan Rp2000 untuk parkir sepeda motor, Rp 5000 untuk mobil dan Rp20.000 untuk bis.

Minggu pagi itu (2/4/2017) kawasan wisata Seribu Batu Songgo Langit sudah ramai pengunjung. Warung-warung makan yang terbuat dari bambu, berlantai kayu, dan beratap rumbia berderet di sisi kanan sudah disesaki para wisatawan yang sarapan. Kemerisik angin terdengar dari sela pohon-pohon pinus yang menjulang. Meski masih satu kawasan dengan Pinus Sari, ada yang berbeda di sini. Untuk menuju objek wisata inti, pengunjung harus turun menuju jurang di bawah. Banyak jalan yang bisa dipilih. Melewati gerbang berbentuk kukusan menuju anak tangga yang disusun dari potongan kayu atau meniti jembatan kayu kecil yang hanya cukup dipakai berjalan bergantian. Semua bermuara ke satu tujuan, replika negeri dongeng di bawah sana.

Sebutan Seribu Batu nampaknya memang cocok disematkan pada objek wisata ini. Di sana sini terdapat batuan besar berdiameter lebar, bahkan ada yang bisa dinaiki sepuluh orang sekaligus. Pagi itu beberapa pesepeda berfoto di atas batu tersebut. Itu mungkin dilakukan karena pengelola sudah menyediakan jembatan-jembatan kayu untuk menaiki batu-batu besar tersebut. Yang jadi idola tentu dua rumah hobit bercat hijau dan merah muda. Pengunjung bahkan harus antri untuk dapat berpose di depannya.

Saya menemui ketua Koperasi Notowono Dlingo sekaligus konseptor kawasan wisata ini, Purwo Harsono. Sambil menyeruput teh hangat ia bercerita awal mula pembentukan kawasan wisata Seribu Batu Songgo Langit. Kawasan ini sebenarnya telah ada sejak setahun yang lalu, namun tak ada pengunjung yang datang padahal letaknya tak jauh dari Pinus Sari yang tak pernah sepi. Sekalipun ada yang lewat, mereka hanya menengok sebentar lalu pergi. "Ini guyonannya dulu, objek wisata balik kanan. Tiap ada yang datang, liat sebentar terus balik lagi enggak jadi mampir," ujar dia sambil tertawa.

Akhirnya pada awal Januari, Ipung sapaan akrab Purwo Harsono ditugaskan oleh Kepala KPH (Kawasan Pengelolaan Hutan) Dinas Perhutanan dan Perkebunan Bantul untuk menata kawasan ini. Ipung berpikir keras dan merancang rumah kukusan berbentuk kerucut yang kini dinamai "Rumah Seribu Kayu Negeri Dongeng" sebagai ikon wisata Seribu Batu Songgo Langit. Menurutnya deretan rumah kukusan memiliki filosofi bahwa untuk mencapai rumah terbesar dan terbagus harus melewati beberapa rumah kecil, wujud dari rintangan-rintangan yang mungkin akan dihadapi. "Kukusan itu kan alat masak yang menghasilkan makanan, yang menghidupi, jadi ya harapannya harus tetap hidup," kata dia.

Namun pada perkembangannya, rumah hobit lah yang membuat wisata Seribu Batu Songgo Langit kebanjiran wisatawan. Mereka yang berswafoto di rumah hobit kemudian menyebarkannya melalui sosial media. Ipung tak menampik sebutan objek wisata selfie karena rumah hobit tersebut. Namun ia juga masih berangan untuk membangun suasana Hobbiton dengan cita rasa lokal Jogja. "Rumah hobit itu kan adopsi dari luar [kisah klasik Barat], nanti kita jadikan suasana yang khas sini. Misterius dan horornya juga dapat," ucap dia.

Meski telah ramai, kawasan wisata ini masih dalam tahap pengembangan. Menurut Ipung masih banyak yang harus dibangun diantaranya taman kelinci, Hobitton, panggung amphiteater berbentuk lingkaran, patung kurcaci, dan penyempurnaan pagar. Semuanya akan dikerjakan pada Senin hingga Jumat, sedangkan akhir pekan pengerjaannya akan dihentikan untuk memberi waktu para wisatawan untuk berkunjung.

Biaya untuk pengembangan kawasan semua berasal dari swadaya masyarakat. Kecuali beberapa pembangunan yang terletak di luar kawasan hutan seperti parkir dan toilet yang mendapat bantuan dari HB X sebesar Rp1,5 miliar. "Fasilitas bantuan itu sangat mendukung kemajuan kawasan ini. Lha coba kalau enggak ada, konsep sebesar apapun ya ga akan maju," ujar Ipung.

Ipung sebenarnya tak menyangka rumah hobit dan kukusan ini menjadikan kawasan wisata Seribu Batu Songgo Langit ini primadona baru di kawasan Mangunan. Menurutnya sejak mulai dirombak pada pertengahan Februari lalu, baru pada pertengahan Maret wisatawan berdatangan. Bahkan pada libur Hari Raya Nyepi (28/3) kemarin, wisatawan yang datang mencapai 2700 orang.

"Awalnya sangat susah karena harus menyakinkan orang-orang yang sudah pesimis, 28 hari itu saya tidak menghasilkan kemajuan apa-apa," kenang dia.

Namun kini tak muluk-muluk rasanya jika kawasan ini digadang-gadang jadi pemantik untuk 6 kawasan lain dalam pengelolaan Koperasi Notowono. Apalagi ada rencana integrasi kawasan Imogiri-Dlingo. Homestay akan dikembangkan di Desa Sukorame, Karangasem, Gunung Cilik, Kanigoro, dan Kediwung. Konsep untuk wisata kuliner kelas menengah ke atas juga sedang digarap.

"Pokoknya cuma satu yang saya pegang betul, Tuhan itu sudah menciptakan keindahan jadi jangan diubah dan dirusak. Jadi konsepnya akan tetap menyesuaikan alam, tidak merubah apa-apa yang ada di alam," kata dia.