Akik Tak Laku, Nantiyo Kreasikan Usaha Poles Batu Alam

02 Mei 2017 05:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Kerajinan batu akik tidak lagi menjanjikan

 
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Kerajinan batu akik tidak lagi menjanjikan. Hal ini tak membuat Nantiyo patah arang. Ia tetap menekuni usaha polesan ini, namun dengan variasi produk yang lebih beragam, mulai dari mangkuk, vas bunga hingga nampan.

Bising suara mesin gerinda tak menghilangkan fokus Nantiyo, warga Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong. Ia dengan teliti menghaluskan sebuah batu berbentuk sadel sepeda dengan posisi terbalik.

Benda ini berukuran sekitar 30 centimeter dengan lubang kecil di bagian tengah. Proses penghalusan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sisi luar, bawah hingga di dalam cerukan batu.

Sesekali ia pun membersihkan, butiran-butiran debu yang muncul dari hasil polesan untuk menghaluskan batu tersebut. Rencananya dengan proses ini, Nantiyo ingin membuat sebuah pot bunga untuk tanaman bonsai. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk membuat benda ini dari mulai proses awal hingga akhir sekitar tiga hari.

Alat yang digunakan pun sederhana. Hanya bermodalkan sebuah mesin gerinda. Alat itu digunakan untuk proses produksi secara menyeluruh, mulai dari memotong batu sesuai dengan ukuran yang diinginkan hingga proses penyelesaian akhir untuk memoles batu agar bisa mengkilat saat terkena cahaya.

Dia menjelaskan, usaha ini sudah digeluti sejak satu tahun terakhir. Proses kreasi yang Nantiyo lakukan tidak lepas dari harga akik di pasaran yang anjlok secara drastis. Pada masa jayanya, sebuah akik bisa dihargai mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tapi untuk sekarang harganya hanya di kisaran harga belasan hingga puluhan ribu rupiah.

“Kreasi ini saya lakukan karena saya memang hobi dan menyukai usaha poles batu. Untuk itulah, kenapa saya bertahan dengan usaha ini,” kata Nantiyo kepada Harianjogja.com di akhir pekan lalu.

Menurut dia, pembuatan vas bunga, nampan atau pun wadah bonsai lebih mudah daripada membuat akik. Baginya membuat akik memerlukan ketelitian yang lebih karena ukurannya yang relative kecil.

Sementara untuk kreasi vas bunga dan yang lainnya lebih mudah karena ukuran barang yang relative lebih besar. Meski demikian, ia tidak menampik jika dari sisi harga, nominalnya lebih baik sehingga dapat memberikan keuntungan yang berlebih.

Untuk sebuah mangkuk atau aspak dengan ukuran kecil, Nantiyo mematok harga Rp200.000 per biji. Sedang untuk jenis yang sama, tapi dengan ukuran yang lebih besar dipatok di harga Rp300.000 per unit.

“Kalau untuk vas bunga harganya bisa mencapai Rp1,5 juta. Kreasi ini lebih mahal karena vas ini terdiri dari beberapa bagian ornament batu yang telah dipoles,” ujarnya.

Meski masih dalam tahap merintis, Nantiyo mengaku sudah mulai mendapatkan hasil dari kreasi baru batu alam itu. Untuk pemasaran, kreasi yang dihasilkan sudah diikutkan dalam pameran yang ada di lingkup Gunungkidul atau Pemerintah Daerah Provinsi.

“Saya bersyukur karena barangnya disambut dengan baik. Untuk saat sekarang, saya juga menjajaki pengiriman produk di usaha teman yang ada di Jakarta,” ujarnya.

Ia pun berharap usaha baru ini dapat berkembang dan menyamai capaian kerajinan akik di 2015 lalu sehingga dapat menggeliatkan ekonomi warga. Nantiyo tidak memungkiri,  anjloknya harga akik membuat puluhan perajin gulung tikar dan terpaksa beralih kerja ke sektor yang lain.

“Banyak ada yang kembali jadi petani, buruh bangunan hingga pindah ke daerah lain untuk dapat bekerja,” bebernya.

Hal senada diungkapkan oleh Kinaryo, saudara Nantiyo yang ikut membantu dalam proses pembuatan kreasi baru dari batu alam ini. Menurut dia, perajin akik di Desa Sawahan sekarang dapat dihitung jari dan jumlahnya tidak sampai sepuluh orang. “Semua sudah berhenti dan tinggal berapa orang saja yang nekat bertahan. Salah satunya kami, meski harus berkreasi dengan produk yang baru,” katanya.

Kinaryo mengatakan, dalam sehari dapat membuat tiga unit mangkuk atau asbak. Sedang untuk vas bunga butuh waktu yang lebih lama lagi karena membutuhkan komposisi yang pas dengan kreasi yang diinginkan. “Kesulitan membuat vas bunga atau bonsai lebih karena mencocokan batu yang akan dirangkai,” katanya.

Untuk bahan baku, Kinaryo mengaku tidak merasa khawatir karena stok di Sawahan masih sangat melimpah. Pada proses pencarian bahan dapat menggunakan semua jenis batuan yang ada di lingkungan sekitar. “Kami belum sempat menggali ke dalam tanah, karena bahan yang ada dipermukaan masih sangat melimpah,” ujar dia.