INFASTRUKTUR BANTUL : Anggaran Minim, Warga Swadana Perbaiki Jembatan Gajah Wong

Ilustrasi jembatan (Dok)
11 Mei 2017 05:22 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Infrastruktur Bantul dibangun warga secara swadaya

Harianjogja.com, BANTUL -- Minimnya alokasi anggaran untuk penanganan bencana, membuat warga RT 03 dan 06 Dusun Sampangan dan Lurah Desa Wirokerten berswadana untuk memperbaiki jembatan Sungai Gajah Wong yang ambles pada akhir Maret 2017.

Kepala Seksi Pembangunan Desa Wirokerten, Indrasworo membenarkan dana untuk perbaikan jembatan memang berasal dari warga dan sumbangan personal Lurah Desa Wirokerten. Hal tersebut dikarenakan alokasi dana tak terduga tahun 2017, yang dapat digunakan untuk penanggulangan bencana, sangat minim yaitu tak lebih dari Rp2 juta. Menurutnya, jika alokasi dana tak terduga besar maka bisa memicu dugaan penyelewengan.

"Kalau besar bisa jadi pertanyaan, maka saat musyawarah kami sepakati dana tak terduga hanya sedikit saja. Dialihkan ke program prioritas yang lain," kata dia kepada Harianjogja.com, Selasa (9/5/2017).

Namun menimbang adanya kebutuhan penanggulangan bencana yang cukup penting, maka menurut Indrasworo, saat evaluasi pertengahan semester nanti pihaknya akan mengusulkan pengalihan anggaran. Pos-pos anggaran yang sekiranya tidak menjadi prioritas, akan dialihkan untuk upaya penanganan bencana. Karena di wilayah Desa Wirokerten, potensi bencana alam cukup besar dengan adanya aliran Sungai Gajah Wong yang membelah desa.

"Kemarin FPRB bersama BPBD sudah meninjau tiga titik di sepanjang aliran sungai yang cukup rawan. Salah satunya di dekat bangunan TK, tanahnya sudah tergerus," ujar dia.

Terkait perbaikan jembatan yang ambles di Dusun Sampangan, pihaknya mengatakan perbaikan dengan menggunakan susunan sak pasir yang dicampur semen hanya bersifat sementara saja. Pihak Pemdes akan segera mengajukan proposal untuk perbaikan secara permanen ke BPBD Bantul, BPBD DIY, dan BBWS.

"Besok pagi akan kami lakukan pengukuran untuk menngetahui kebutuhannya. Tapi prediksi kemarin kira-kira sepanjang 30-40 meter harus dibronjong," Indrasworo menjelaskan.

Menurut salah satu warga RT 03, Triyono, dana yang digunakan untuk perbaikan jembatan tersebut sekitar Rp2,5 juta untuk membeli material berupa pasir dan semen, serta untuk menyediakan konsumsi bagi warga yang bekerja bakti. Total ada sekitar 150 sak karung yang disusun bertumpuk secara vertikal untuk menahan amblesnya jembatan. Bagian atas jembatan juga sudah disemen kembali dan diberi jalur air berupa tiga buah pipa paralon untuk mengalirkan air dari jalan.

"BPBD kemarin juga memberikan bantuan berupa karung dan tenaga," ucap dia.

Triyono juga menelaskan penyebab amblesnya jembatan tersebut adalah banjir setinggi tiga meter yang menggerus tubir sungai. Dua rumpun bambu yang berada di tubir sungai bahkan tak mampu menahan gerusan air. Tanah pada akar bambu sampai habis terkena aliran air yang cukup deras. Rumpun bambu tersebut akhirnya tumbang dan membuat jembatan turut ambles sepanjang 1,5 meter.

"Kalau utara hujan deras, di sini pasti kena banjir kiriman. Itu yang membuat tanah di bawah bambu growong," ujar dia.

Akhirnya kedua rumpun bambu yang telah tumbang tersebut dipotong dan dibersihkan. Satu rumpun sudah benar-benar ambles tak bersisa bersama tanah tubir sungai. Sedangkan satu rumpun lainnya masih ada, namun hanya tinggal akarnya saja. Kerja bakti perbaikan jembatan tersebut menurut Triyono dilakukan dalam dua tahap. Yaitu pembersihan rumpun bambu dan penyusunan sak semen, kemudian penyempurnaan. Kerja bakti pertama dilakukan seminggu setelah jembatan ambles, saat aliran sungai kembali normal. Sedangkan yang kedua dilakukan pada pertengahan bulan April lalu.