Ancaman Resistensi Antibiotik Pada Manusia Kian Nyata dan Mengkhawatirkan

Seminar Resistensi Antibiotik pada Lingkungan yang berlangsung di University Club UGM, Rabu (10/5/2017). (Gigih M. Hanafi/JIBI - Harian Jogja)
12 Mei 2017 20:20 WIB Jogja Share :

Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM bekerjasama dengan Universitas Helsinki, Finlandia memaparkan ancaman resistensi antibiotik terhadap manusia serta hewan ternak

 

Harianjogja.com, JOGJA - Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM bekerjasama dengan Universitas Helsinki, Finlandia memaparkan ancaman resistensi antibiotik terhadap manusia serta hewan ternak.

Upaya itu dilakukan dalam seminar Resistensi Antibiotik pada Lingkungan yang berlangsung di University Club UGM, Rabu (10/5/2017).

Kepala PSLH UGM Subaryono mengungkapkan ancaman resistensi antibiotik pada manusia kian nyata dan mengkhawatirkan. Menurut dia, pada hari kesehatan dunia beberapa waktu lalu, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa resistensi antibiotik telah menjadi ancaman global dan memerlukan usaha bersama untuk melawannya.

"Memahami prevalensi patogen-resisten secara klinis dan juga keberadaan dan penyebaran dari gen resisten-antibiotik di lingkungan yang berbeda, sangat penting bagi kesehatan manusia dan hewan ternak karena gen-gen dari lingkungan dapat berpindah ke patogen manusia dan hewan," ujar dia.

Selain itu, jelas dia, perhatian kini juga tertuju pada rantai produksi makanan yang diduga memainkan peranan penting sebagai pembawa gen resisten-antibiotik mengingat penggunaan antibiotik pada produksi hewan.

Seminar ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antibiotik melalui komunikasi dan edukasi publik pada komunitas yang lebih luas untuk menghindari kemunculan dan penyebaran resistensi antibiotik.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik tersebut. Hal ini sangat penting untuk diketahui tidak hanya oleh dokter dan yang terlibat di bidang kesehatan saja tapi juga penting diketahui oleh masyarakat secara luas.

Karenanya penelitian tentang gen resisten-antibiotik di lingkungan diperlukan untuk memprediksi kemunculan dan penyebaran patogen-patogen resisten yang mempengaruhi kesehatan manusia dan hewan ternak.

Sementara Marko Virta, peneliti dari University of Helsinki menambahkan, antibiotik telah merevolusi kesehatan manusia dan hewan dan juga menyelamatkan banyak nyawa, namun peningkatan resistensi mikroba terhadap antibiotik mengancam penggunaannya di masa depan dan kemungkinan untuk kembali ke masa pra-antibiotik akan terjadi.

“Hasil sejumlah penelitian menunjukan adanya korelasi kuat antara penggunaan antibiotik dan terjadinya resistensi antibiotik. Oleh karena itu, pentingnya dilakukan edukasi di dunia kesehatan dan masyarakat akan penggunaan antibiotik secara tepat," ujarnya.

Dalam seminar ini juga berlangsung acara peresmian kerjasama riset antara Prof Marko Virta grup dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH)-UGM dalam proyek Resistensi Antibiotik di Indonesia di Jogja.

Proyek ini akan menghasilkan data kuantitatif gen-gen resisten-antibiotik di lingkungan sungai khususnya yang terkena dampak dari limbah rumah sakit, urban perkotaan fasilitas produksi hewan, dan akuakultur.

Data tentang gen resisten-antibiotik nantinya akan digunakan untuk menganalisa risiko penyebaran gen resisten-antibiotik berkaitan dengan kesehatan publik dan lingkungan air. Setelah proyek ini peneliti-peneliti Indonesia diharapkan dapat memonitor resistensi antibiotik pada lingkungan.

Sejauh ini kelompok riset Marko Virta dari Departemen Ilmu Pangan dan Lingkungan, Universitas Helsink telah mempelajari gen resistensi antibiotik yang terjadi di lingkungan selama lebih dari 10 tahun. Kelompok ini meneliti resistensi antibiotik yang terjadi pada manusia akibat dampak dari  lingkungan seperti pada fasilitas produksi hewan, pabrik pengolahan limbah dan akuakultur.

Kelompok riset Marko Virta merupakan anggota aktif pada sejumlah kegiatan EU-COST (European Cooperation in Science and Technology) yang berkaitan dengan resistensi antibiotik pada lingkungan melalui kerja sama lintas disiplin dan antar peneliti dari berbagai negara Eropa.

Kelompok riset Marko Virta dalam kerjasamanya dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM akan melakukan proyek penelitian Resistensi Antibiotik di Indonesia untuk menghasilkan data kuantitatif gen-gen resisten-antibiotik di lingkungan sungai.

Data hasil riset akan digunakan untuk menganalisa risiko penyebaran gen resistensi berkaitan dengan kesehatan publik dan lingkungan air. Setelah proyek ini peneliti-peneliti Indonesia diharapkan dapat memonitor resistensi antibiotik pada lingkungan.