KISAH SUKSES : Kombinasi Batik dan Shibori, Rini Kembangkan Fashion Ramah Lingkungan

Koleksi ready to wear Kembang Tjelup oleh desainer Rini Kartika saat temu media di The Phoenix Hotel Yogyakarta Rabu (10/5/2017) lalu. (Mayang Nova Lestari/JIBI - Harian Jogja)
17 Mei 2017 18:55 WIB Jogja Share :

Rini Kartika, perancang busana asal Jogja mengembangkan sebuah karya ramah lingkungan

Harianjogja.com, JOGJA- Diawali dengan semangat dan cinta terhadap warisan budaya Indonesia sebagai karya seni, juga kecintaannya terhadap lingkungan, membuat Rini Kartika, perancang busana asal Jogja mengembangkan sebuah karya yang berbeda dari lainnya.

Ia mengemas ragam busana yang bersumber daya lokal dan alami.

Rini membesarkan brand ‘Kembang Tjelup’ sejak 2014 lalu yang mengkombinasikan teknik batik dan tekhnik Shibori. Shibori merupakan sebuah teknik pewarnaan dari negeri tirai bambu, Jepang.

Shibori mirip dengan teknik pewarnaan tie dye atau yang lebih dikenal dengan nama Jumputan. Dijelaskan Rini, jika jumputan menggunakan teknik ikat, sementara Shibori dengan teknik melipat kain.

Melalui lipatan tersebut lah menghasilkan bentuk kotak-kotak, segitiga ataupun berbagai jenis segi bangun, misalnya membentuk seperti segi lima atau segi enam tergantung bagaimana teknik dalam melipat.

Dalam berkarya, Rini tetap ingin menuangkan kecintaannya pada warisan budaya Indonesia, salah satunya yakni batik. Dengan batik menurutnya dapat menjadi cara untuk melibatkan budaya Indonesia tersebut.

Maka ia padukan batik cap maupun tulis sehingga menghasilkan karya yang bernuansa tradisional sementara kesan modern dihasilkan dari pewarnaan Shibori .

Rini melanjutkan, sesuai misi dari Kembang Tjelup yang mana ingin menciptakan sebuah produk eco fashion yang berarti ramah lingkungan, Ia menggunakan sejumlah material dari serat alam seperti katun, linen, sutra dengan pewarna alam dari kulit kayu, kulit buah dan daun-daunan.

“Teknik pewarnaan hanya menggunakan warna alam dari tumbuhan atau limbah. Tidak hanya ramah terhadap lingkungan namun juga memberikan kesan yang unik,” kata Rini saat gelaran fashion show di Hotel Phoenix, Jogja (10/5/2017) lalu.

Penggunaan warna alam misalnya warna biru yang berasal dari indigofera, kemudian warna coklat yang berasal dari kulit kayu mahoni, warna kekuningan bisa dari kulit jalawe atau sabut kelapa (sepet).

Pewarnaan dengan bahan alami tersebut lah yang membuat proses yang dijalani Rini dalam membuat sebuah produk busana menjadi cukup lama dibandingkan apabila dengan mengunakan bahan kimia.

Sementara untuk proses pencelupan, membutuhkan pengulangan hingga sepuluh sampai 20 kali untuk menghasilkan tingkat kepekatan yang diinginkan. Setidaknya, untuk satu kain membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu.

"Membuat warna alam membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebelumnya, bahan harus diendapkan atau direndam dalam semalam lalu perebusan dilakukan keesokan harinya yang juga menghabiskan waktu berjam-jam," terang Rini.

Kebutuhan kain, Rini mengaku menggunakan sejumlah bahan dengan serat alam, yang berasal dari dalam negeri seperti Sutra dan Katun meski beberapa kali ia pun menggunakan Linen yang merupakan produk impor.

Seperti pada mini fashion show tersebut Rini menyajikan produk busana ready to wear shibori yang menggunakan pewarna alami indigovera, sehingga menghasilkan warna biru. Dipadukan dengan selendang batik cap membuat kesan tradisional dan modern menyatu cocok digunakan semua kalangan usia.

Selama ini, pasar Kembang Tjelup didominasi konsumen dari Jakarta dan sejumlah konsumen luar negeri. Kisaran harga busana ready to wear yang ia tawarkan mulai Rp300.000 dan kain shibori hingga Rp60.000. Rini tak menampik harga tersebut dikatakan cukup tinggi, mengingat proses pengerjaan terkait waktu yang lama dan teknik yang rumit.

Melaui rancangan eko-fashion tersebut Rini ingin menyampaikan pesan bahwa konsumen pun harus ikut bertanggung jawab atas produk yang digunakan dalam dirinya.