INFRASTRUKTUR BANTUL : Perbaikan Jalur Wisata Diutamakan

Ilustrasi jalan rusak. (JIBI/Semarangpos.com - Dok.)
21 Mei 2017 05:22 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Infrastruktur Bantul untuk jalur wisata akan direhabilitasi.

Harianjogja.com, BANTUL -- Sektor pariwisata menjadi salah satu dari sektor unggulan yang dimiliki oleh Kabupaten Bantul, selain sektor budaya dan ekonomi kreatif. Namun sektor pariwisata Bantul masih memiliki kendala yaitu infrastruktur dan promosi. Hal tersebut disampaikan oleh Assek I Pemkab Bantul, Bambang Guritno SH saat acara sosialisasi dan penyerapan aspirasi oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI GKR Hemas di Balai Desa Wukirsari, Jumat (19/5/2017) sore.

Menurut Bambang, berdasarkan data Dinas Pariwisata Bantul ada 79 objek wisata yang 39 di antaranya merupakan Desa Wisata yang masih terus berkembang dan berbenah. Di antaranya yang membutuhkan perbaikan adalah infrastruktur menuju objek wisata. Sebab kini masih banyak jalan menuju objek wisata yang sempit sehingga tidak bisa untuk simpangan kendaraan.

"Masih banyak objek yang akses jalanya belum memadai. Kami berharap ini menjadi perhatian dan juga ada pembangunan kesana agar lebih banyak wisatawan yang datang,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Bardi, Ketua LPMD Imogiri. Menurutnya, jalan menuju Pajimatan atau yang lebih dikenal sebagai Makam Raja-Raja Imogiri rusak dan berlubang. Padahal Pajimatan merupakan objek wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan.

"Besar harapan kami agar jalan tersebut diperbaiki,” katanya.

Anggota DPR RI, GKR Hemas mengatakan infrastruktur merupakan salah satu sarana yang diberi perhatian khusus oleh Pemerintah guna menunjang kemajuan sektor pariwisata. Ia mendorong Pemkab Bantul untuk proaktif memberikan usulan baik kepada Pemprov atau melalui UPD terkait terkait pembangunan infrastruktur, terutama jalan menuju objek wisata.

"Usulkan anggaran secara jelas seperti Kabupaten Gunungkidul yang membelah tebing untuk pelebaran jalan. Di Bantul ini jalan ke Parangtritis juga perlu diluaskan," ujarnya.

Selain itu menurut GKR Hemas, Dana Keistimewaan (Danais) DIY sebesar Rp265 miliar tidak semata digunakan untuk kebutuhan seni budaya saja seperti pembelian seragam, gamelan dan lain-lainnya. Namun Danais bisa digunakan juga untuk pembangunan infrastruktur desa yang mengarah pada pengembangan sektor pariwisata.