Perkosa Pacar di Bawah Umur, Pemuda Wonogiri Ancam Sebar Video
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Asa Firda Inayah (kanan) bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. (Facebook Afi Nihaya Faradisa)
Trending Sosmed, Afi Nihaya Faradisa diundang Talkshow di UGM
Harianjogja.com, SLEMAN -- Sejumlah akademisi di Universitas Gadjah Mada (UGM) takjub melihat Afi Nihaya Faradisa tampil di hadapan mereka dalam sebuah Talkshow Kebangsaan di Auditorium Fisipol kampus setempat, Senin (29/5/2017). Mereka seperti tidak percaya, pelajar kelas XII SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi itu memiliki pemikiran kritis dalam kebhinekaan di Indonesia.
Baca Juga :http://m.harianjogja.com/?p=820587"> TRENDING SOSMED : Pesan Damai dari Dek Afi (1/3)
Awalnya dia juga tidak menyangka tulisannya itu bakal menjadi viral di lini masa. Meski tulisanya tidak jarang menimbulkan beragam pro dan kontra, dan selalu diicerca, namun dia tidak menjadikan itu sebuah masalah. Misinya hanyalah ingin menyampaiakan pesan perdamaian.
“Saya senang ada tanggapan, baik yang pro dan kontra, berarti tujuan tulisan saya tercapai, kita tidak harus berpikiran sama tapi marilah kita sama-sama untuk berpikir,” jelas dia.
Beragam tema tulisan yang ditulis oleh Afi lebih banyak menyampaikan ide tentang isu keragaman dan kemajemukan. Ia mengajak semua orang untuk mempertahankan keragaman dan kemajemukan meski suku, agama dan warna kulit masing-masing orang berbeda. Berkat tulisannya renyah dan mudah dipahami, tulisannya akhirnya banyak disukai. Ia kini memiliki pengikut lebih dari setengah juta orang. Afi sendiri tidak menyangka jika tulisannya banyak mendapat pujian dari para netizen.
Kendati begitu, Afi tidak merasa dia paling benar atau paling pintar. Menurutnya apa yang disampaikannya di Facebook sebagai bentuk keprihatinnnya dalam menanggapi isu keragaman yang begitu hangat terjadi saat ini.
“Poinnya tetap sama, kita harus hidup rukun sebagai sebuah bangsa,” katanya.
Dalam talkshow tersebut Afi menceritakan tentang latar belakang keluarganya. Dia hanya berasal dari keluarga sederhana. Ia tinggal di pelosok bagian selatan Banyuwangi. Seperti remaja lainnya ia mengaku menikmati kehidupannya saat ini. Beruntung orang tuanya tidak pernah mengekang dari aktivitasnya menulis di media sosial.
Dia mulai menulis sejak tahun lalu, meski sudah membuat akun Facebook, sejak 2012. Awalnya, ia mengaku sering menulis di sebuah ponsel kecil, hingga akhirnya berkat tulisannya menjadi viral, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta menghadiahkannya sebuah smartphone seharga Rp600.000.
“Hape saya ini pemberian salah seorang dosen di Universitas Indonesia,” katanya tersenyum.
Berbicara tentang soal isu kebangsaan, Afi berpendapat keragaman itu adalah sebuah rahmat dan berkat jika kita dewasa dan bijak dalam menyikapinya.
“Keragaman akan sangat mengancam diri kita jika kita tidak bisa menyikapi secara benar. Sikap yang benar adalah kita tidak boleh menunjukkan bahwa kita merasa paling benar atau paling pantas di hadapan orang lain,” paparnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Sleman menjadi lokasi piloting Perlinsos Digital. Sebanyak 76.315 KK telah terdaftar untuk mendukung penyaluran bansos tepat sasaran.
Upaya melestarikan bahasa dan aksara Jawa terus dilakukan di tengah perkembangan teknologi digital.
BSSN mengingatkan AI membuat serangan siber ke sektor keuangan makin otomatis, personal, dan sulit dibedakan dari komunikasi asli.
Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 tak lagi sekadar menjadi acara puncak HUT Kota Jogja. Perayaan yang memasuki tahun ke-10 itu dikemas menjadi WJNC Festiv
PSEL Piyungan diproyeksikan mengolah 1.000 ton sampah per hari. DIY menyiapkan pasokan dari Gunungkidul, Kulonprogo hingga Jateng.