193 Karya Seniman Difabel Dipamerkan, Ada Prangko Khusus
Sebanyak 193 karya dari 131 seniman difabel dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Abdi dalem Kraton sedang mengeringkan kereta Kanjeng Nyai Jimat seusai dijamasi atau dicuci di halaman Museum Kereta, Selasa (17/10/2017). (Ujang Hasanudin)
Ratusan warga memadati halaman Museum Kereta Kraton, yang terletak di pojok Alun-alun Selatan
Harianjogja.com, JOGJA- Ratusan warga memadati halaman Museum Kereta Kraton, yang terletak di pojok Alun-alun Selatan, Selasa (17/10/2017).
Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=860612">Warga Berebut Air Jamasan Kereta di Kraton Ngayogyakarta
Mereka ingin menyaksikan prosesi jamasan atau pembersihan kereta pusaka, namun sebagian besar lebih dari sekadar menyaksikan, melainkan sudah menantikan prosesi tersebut uuntuk mengambil air bekas jamasan yang dipercaya dapat membawa keberuntungan.
Aa dua kereta pusaka yang dijamasi, yakni Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Manik Retno. Namun selain dua kereta tersebut, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjamasi semua pusaka secara tertutup.
Saking tertutupnya, selama dua hari ini Kraton tertutup untuk wisatawan. Kanjeng Nyai Jima dan Kyai Manik Roro selama ini tersimpan di mueum.
Kanjeng Nyai Jimat merupakan kendaraan yang sempat digunakan pada Hamengku Buwono I. Kereta yang ditarik delapan kuda itu merupakan buatan Belanda sekitar 1700an.
Setiap tahun kereta tersebut dibersihkan. Waktu pembersihannya antara Jumat dan Selasa Kliwon. Meski sudah banyak yang mengelupas dibagian kayunya, namun kereta tersebut masih dapat berjalan.
Supaya lebih terawat, seusai dijamasi, kereta ini langsung diolesi minyak kelapa campur minyak cendana.
Sementara Kyai Manik Retno merupakan kereta yang digunakan HB IV sebagai kendaraan untuk jalan-jalan. Kereta tersebut dibuat di Belanda sekitar 1815an. “Kali ini yang mengiringi Kanjeng Nyai Jimat adalah Kyai Manik Retno,” kata Wedono Rono Wiratmo, salah satu abdi dalem disela-sela jamasan. Biasanya pengiring Nyai Jimat tiap tahunnya berbeda-beda.
Sebelum prosesi jamasan dimulai, malam harinya abdi dalem menggelar selamatan atau tirakatan di dalam museum. Tirakatan yang berlangsung sampai tengah malam ini juga dihadiri banyak masyarakat Jogja mau pun luar kota. Paginya lantunan doa-doa dipanjatkan hanya oleh para abdi dalem yang bertugas menjamasi.
Sejak prosesi doa dimulai aroma dupa mulai menyeruak sampai luar museum. Dari luar museum masyarakat semakin bertambah banyak. Meski hujan turun sejak pagi, namun tak menyurutkan mereka untuk tetap mendekat ke Kereta Kanjeng Nyai Jimat. Sebagian besar mereka membawa tempat air dari dirigen, botol, dan plastik.
Namun mereka tidak bisa lebih dekat karena pihak Kraton memberikan pembatas agar masyarakat tertib. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, warga bisa lebih dekat bahkan bisa menadahkan air bekas cucian langsung dari bawah kereta. Kali ini abdi dalem sudah menyiapkan dua gentong air kemudian diisi air bekas jamasan kereta untuk diambil masyarakat.
Air tersebut pun menjadi rebutan. Bahkan sebelum selesai jamasan, air dalam gentong sudah habis. Beberapa dari mereka menggunakan air tersebut cuci muka dan mandi di lokasi. Namun sebagian besar membawa pulang.
Yuniarti, 57, salah satunya. Warga Godean Sleman ini hampir lupa sudah berapa Suro mengikuti tradisi tersebut, saking seringnya. Ia bersama anaknya Jatmiko datang hanya untuk mengambil air bekas jamasan yang diyakini dapat membawa keberkahan. Ia mendapat tiga botol.
Rencananya air tersebut akan dicampurkan ke dalam sumur di rumahnya agar ia bersama keluarganya selalu dalam keadaan sehat, “Untuk keberkahan, biar sehat terus,” ucapnya. Malam harinya, ia sudah datang ke museum untuk tirakatan.
Tradisi yang sudah bertahun-tahun ini juga menarik bagi warga luar daerah. Bahkan Wahyu Mintarsih, 59, warga Tebet, Jakarta Selatan sengaja datang untuk mengambil air.
Sambil berurai air mata ia akan menggunakan beberapa botol air tersebut untuk menyirami area warungnya di Jakarta. “Biar warungnya laris,” kata dia. Ia mengungkapkan akhir-akhir ini warungnya sepi.
Tidak hanya berebut air, warga bahkan berebut beberapa atribut yang digunakan untuk mencuci keret, seperti bunga, jeruk nipis, hingga kain mori.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 193 karya dari 131 seniman difabel dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Karhutla melanda lima kawasan gunung di Jawa Timur sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan melakukan pemadaman manual dan pemantauan titik api.
Manajemen PSS Sleman mengonfirmasi kecelakaan rombongan suporter di Tol Madiun KM 616 saat menuju Surabaya. Identitas dan jumlah korban masih diverifikasi.
Demo besar di Prancis pada 17 Oktober 2026 diwarnai penjarahan toko mewah, Apple Store, dan sejumlah gerai lain di beberapa kota.
Susurun 2026 di Boyolali diikuti 2.500 pelari. Selain mendorong gaya hidup sehat, event ini menjadi ajang promosi wisata, kuliner, dan produk.
Pemkot Jogja menurunkan tarif Pajak Air Tanah menjadi 10% untuk PDAM dan 12,5% bagi badan usaha lain. Kebijakan berlaku sejak Oktober 2026.