Impor Beras Diharapkan Tidak Ganggu Harga Saat Panen Raya

16 Januari 2018 11:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Akan lebih baik jika impor dilakukan secara bertahap

Harianjogja.com, SLEMAN-Naiknya harga beras memang dipengaruhi hukum supply dan demand. Namun, kenaikan harga kali ini kemungkinan juga ada permasalahan di rantai distribusi.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Heru Saptono mengungkapkan, akan lebih baik jika impor dilakukan secara bertahap dan dalam bentuk sediaan. "Dengan begitu, keberadaanya tidak mengganggu harga ketika panen raya di Februari dan Maret," katanya kepada Harianjogja.com, Senin (15/1/2018).

Diakuinya, sebagian cadangan pangan di lumbung pangan saat ini memang kosong. Karena harga gabah tinggi sebagian dijual atau dipinjamkan kepada anggota. Hanya saja bila beras impor membanjiri saat panen raya nanti, tegas Heru, maka hal itu justru membahayakan karena harga menjadi sangat fluktuatif. Apalagi saat ini ketersediaan stok beras di Sleman mencukupi. Stok beras di penggilingan masih bisa produksi 17 kwintal dengan ketersediaan gabah 72 kwintal setara dengan 60,2 kwintal beras.

Menurutnya, produksi beras di dua penggilingan di Sidomoyo dan UD Makmur sebanyak 77,2 kwintal per hari. Pada Januari ini, alokasi panen di wilayah Sleman ada sekitar 2.600-5.000 ha dan dinilai mampu menyediakan beras untuk memenuhi konsumsi masyarakat.

"Beras cadangan pangan pemerintah yang dititipkan di KUD Ngemplak saat ini sebanyak 62.832 ton beras. Jadi stok beras mencukupi," katanya.

Saat menggelar panen raya di Madurejo, Prambanan pekan lalu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Momon Rusmono menjelaskan, total luas panen Januari 2018 di DIY mencapai 30.000 hektar. Dengan begitu, katanya, produksi padi dan stok beras di DIY dipastikan aman hingga panen raya pada Maret mendatang.

"Khusus di desa Madurejo, padi yang siap dipanen terdapat 100 herktar dari total luas panen 300 hektar. Produktivitas padi di sini 7,4 ton gabah kering panen (GKP) atau 6,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektar," katanya.