Beragam Potensi Wisata Kepuharjo Ini akan Dikembangkan

19 Februari 2018 06:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Kepuharjo akan mengembangkan sektor wisata


Harianjogja.com, SLEMAN-Masyarakat Kepuharjo antusias merayakan peringatan kepindahan balai desa (bedhol songsong) yang keenam kalinya tahun ini. Seluruh potensi desa dipamerkan. Masyarakat siap mengembangkan potensi wisata di lokasi tersebut.

Tahun ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Kepuharjo merayakan peringatan kepindahan balai desa untuk keenam kalinya. Sejak erupsi Merapi 2010, saban tahun peringatan tersebut digelar. Arak-arakan budaya mengalir dari balai desa lama (dusun Kopeng) ke balai desa yang baru. Selain melibatkan masyarakat, kegiatan tersebut juga dihadiri wisatawan yang datang ke Kaliadem.


Sejumlah potensi kesenian di desa itu ditampilkan seperti kesenian Reog Ponorogo Kopeng, Wayang Wong Manggong, kesenian Jatilan Kepuharjo, Campursari Jambu, dan kelompok tari dusun Petung. Di Pagerjurang ada juga kelompok Mocopatan. Masyarakat juga dihibur oleh penampilan drumband SMAN 1 Cangkringan.


Sebelumnya, rangkaian kegiatan digelar sepekan sebelum acara puncak pada Kamis (15/2/2018) lalu. Terakhir, seluruh pamong melakukan ziarah ke makam para leluhur termasuk ke makam kades sebelumnya.


Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto mengatakan, perayaan bedhol songsong desa tahun ini menampilkan seluruh potensi yang ada di Kepuharjo, baik potensi wisata, seni, maupun budaya. "Ke depan, kami juga akan melibatkan para pelaku usaha di lokasi wisata. Banyak dari mereka yang menawarkan aneka kuliner," katanya.


Dia menjelaskan, beragam potensi wisata yang ada di wilayah Kepuharjo akan terus dikembangkan dan dikuatkan. Program tersebut juga melibatkan masyarakat. Di wilayah Kepuharjo, setidaknya ada delapan potensi wisata yang saat ini berkembang. Sebagian sudah menjadi objek wisata favorit masyarakat. Mulai wisata Kaliadem, Watu Alien, Bunker Merapi, Museum Sisa Hartaku yang menampilkan artefak sisa-sisa erupsi Merapi. "Dahulu hanya ada wisata Kaliadem saja. Namun, pascaerupsi Merapi, muncul setidaknya delapan titik wisata baru," katanya.


Warga mengembangkan beberapa wisata buatan seperti Stonehenge, batuan bersusun dengan luas area 800 meter persegi dan juga bangunan menyerupai benteng The Lost World Castel. Keduanya lokasi wisata ini sudah banyak menyedot perhatian dan dikunjungi wisatawan. "Warga juga menyiapkan wisata baru, kebun bunga di Petung. Semua disiapkan dan dikelola oleh masyarakat sendiri," katanya.


Dana pengembangan wisata-wisata di Kepuharjo, selain sumbangsih dari warga juga berasal dari penarikan retribusi dari pengunjung. Sesuai Perda Retribusi wisata, kata Heri, Desa memperoleh 80% bagian untuk parkir dan 60% dari beamasuk kawasan wisata Kaliadem.


Tak hanya menyuguhkan wisata alam dan buatan, di Kepuharjo juga akan dikembangkan wisata kopi. Jika sebelumnya hanya ada Wisata Kopi Merapi, saat ini banyak warung ataupun kedai kopi di wilayah tersebut. Seperti Kopi Galia yang menyajikan kopi Merapi, Robusha dan Arabika. "Ke depan warung-warung kopi ini akan dikembangkan," katanya.


Baginya, meski masuk kawasan rawan bencana (KRB) III beragam aktivitas wisata yang muncul di daerah itu dinilai menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tidak hanya itu, ada perpindahan mata ekonomi dari sebelumnya sebagai petani dan penambang menjadi pelaku wisata. "Beberapa warga berfikir daripada merusak lingkungan dengan cara menambang pasir, lebih baik mereka menjadi pelaku wisata," ujarnya.