9 Siswa SD di Kulonprogo Pusing dan Mual, Diduga Keracunan Permen Susu

21 Februari 2018 20:20 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Sebanyak sembilan siswa SD Maarif Nurul Jannah, yang berlokasi Jomboran, Janten, Temon keracunan permen berasa susu

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Sebanyak sembilan siswa SD Maarif Nurul Jannah, yang berlokasi Jomboran, Janten, Temon diduga keracunan permen rasa susu, Rabu (21/2/2018) pagi.

Kesembilannya sempat dilarikan ke Pos Kesehatan Desa Janten karena merasakan mual dan pusing akibat permen itu.

Kesembilan siswa itu seluruhnya berasal dari satu kelas, yaitu Siswa II A. Kesembilannya mendapatkan permen dari salah satu teman kelasnya yang membagikan secara cuma-cuma.

Salah satu siswa yang sempat memakan permen tersebut, Nabila, mengungkapkan bahwa dirinya merasa pusing dan sakit perut. Namun dirinya tidak mengalami muntah-muntah.

“Tadi pusing perut sakit terus dibawa ke poskesdes,” jelas Nabila.

Nabila tidak mengira bahwa permen berasa susu itu akan membuat dirinya sempat jatuh sakit. Ia mengungkapkan seandainya dirinya tahu maka ia tidak akan memakan itu. “Tadi makan dua, Sekarang sudah tidak begitu pusing lagi,” jelasnya.

Serupa dengan Menik Zulfa Roifatul Jannah, dirinya mengeluhkan pusing dan sakit perut. Bahkan dirinya juga mengaku bahwa ia sempat di bawa ke Poskesdes Janten akibat sakit perut. “Sekarang sudah tidak pusing,” jelas Zulfa.

Sementara seizin Kepala Sekolah, Nurhayati selaku Ibu pondok sekolah tersebut mengaku tidak tahu mengerti kejadian secara persis. Namun dari keterangan yang ia dapatkan, setidaknya ada sembilan anak yang sempat dibawa ke bidan di Poskesdes.

"Tadi pesan dari perawat Poskesdes, kalau masih merasakan pusing atau mual segera dibawa ke Puskesmas Temon. Untuk warung yang menjual permen tersebut sudah kami minta untuk tidak menjual permen itu dulu," katanya

Begitu juga permen yang sempat beredar, pihak sekolah juga telah melakukan penyitaan terhadap permen tersebut. Bahkan menurut Nurhayati sekolah juga telah menyerahkan beberapa permen untuk diteliti oleh kepolisian .

"Kegiatan bagi-bagi makanan biasanya dilakukan. Dan permen yang didapat juga tidak kadaluarsa, tulisannya 2019, tapi sudah diserahkan ke kepolisian," katanya