Batik Kuno Era Sultan Agung Bakal Dipamerkan di Taman Pintar

23 Februari 2018 10:40 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pameran batik koleksi Kraton dan Pura Pakualaman antara lain bertujuan menyosialisasikan filosofi batik.

Harianjogja.com, JOGJA--Sebanyak 27 koleksi batik dari Kraton dan Pura Pakualaman akan di pamerkan pada 26 Februari-4 Maret di Taman Pintar. Pameran batik tersebut bagian dari rangkaian peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ke-271.

Pameran dengan tema Cerita di Balik Goresan Canting itu akan menghadirkan 14 koleksi batik Kraton, di antaranya koleksi batik tertua motif Parang dan Kawung, yang sudah diciptakan sejak era Sultan Agung. Selain itu ada batikĀ  Truntum, Ceplok, dan Dodot.

Batik dengan kain Dodot ini yang pernah digunakan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara saat melangsungkan pernikahan pada 2011 lalu. Dodot merupakan nama kain batik, sementara motifnya masuk dalam motif Grompol atau Ceplok.

"Kain batik Dodot ini yang spesial dalam pameran ini karena salah satu koleksi Kraton yang dikenakan Gusti Ratu Bendoro dan suaminya saat royal wedding," kata Kepala Bidang Taman Pintar, Dinas Pariwisata Kota Jogja, Afia Rosdiana di Balai Kota Jogja, Kamis (22/2/2018).

Sementara dari Pura Pakualaman akan menampilkan batik-batik hasil karya permaisuri KGPAA Paku Alam X, GKBRAy Atika, yang diambil dari naskah-naskah kuno Pura Pakualaman, seperti motif Astra Brata, Sestradi, dan Wilaya Kusuma Jana.

Afia mengatakan pameran itu digelar untuk mengenalkan batik koleksi Kraton dan Pura Pakualaman kepada masyarakat terkait folosifi, makna, dan cerita yang terkandung di dalamnya. Pengunjung nantinya tidak hanya menyaksikan koleksi batik, namun juga bisa praktik langsung yang dipandu oleh pembatik dari Kraton dan Pakualaman.

"Slema ini masyarakat hanya tahu batik, namun tidak mengetahui makna filosofi di baliknya," kata dia. Kegiatan tersebut juga sesuai dengan salah satu misi Taman Pintar mengenalkan kebudayaan lokal kepada masyarakat.

Taman Pintar selama ini juga sudah menyediakan area khusus pelatihan membatik di area kampung kerajinan. Pengunjung dapat belajar membatik, mulai dari mulai dari membuat pola, pewarnaan hingga pencelupan.

GKR Bendara mengatakan banyak masyarakat yang tahu batik, namun tidak banyak yang mengetahui nilai filosifinya. "Melalui pameran ini, kami berharap masyarakat mengetahui filosofi setiap motif batik sehingga motif batik tidak disalahgunakan," kata Bendara.

Bendara mencontohkan, salah satu penggunaan motif batik untuk desain interior la?ntai yang setiap hari diinjak-injak. Menurutnya hal itu kurang tepat, karena setiap batik memilik nilai filosofi.