Kelompok Lokal Tampil di Gelar Budaya Desa Temuwuh

26 Februari 2018 10:20 WIB Sekar Langit Nariswari Bantul Share :

Acara ini sebagai ajang berkumpul dan silaturahmi masyarakat perdesaan

Harianjogja.com, BANTUL-Gelar Budaya digelar di Dusun Temuwuh, Temuwuh, Dlingo, Bantul pada Sabtu (24/2/2018). Kelompok jathilan dan campur sari lokal diminta hadir untuk mengisi acara yang disokong oleh Dinas Pariwisata DIY ini.

Acara dibuka sekitar pukul 14.00 WIB dengan penampilan kelompok jathilan hingga sore hari. Kelompok campur sari mulai tampil sekitar pukul 20.00 WIB hingga tengah malam. Bambang Sutopo, Ketua panitia mengatakan, acara digelar sebagai bagian untuk melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman modern ini.

“Nguri-uri budaya lokal, supaya anak muda tetap mengetahui kekayaan budaya daerah,” katanya kepada Harianjogja.com.

Penampil sendiri khusus diambil dari masyarakat pedukuhan ini yang juga telah dikenal akan kualitas performanya. Hal ini dibuktikan bahwa kelompok tersebut sudah banyak diundang untuk mengisi acara di berbagai daerah di Jawa Tengah dan DIY.

Dengan demikian, dana yang tersedia bisa lebih bermanfaat untuk pengembangan kelompok kesenian lokal. Selain itu, masyarakat juga bisa terhibur dan bangga dengan kelompok tersebut.

Bambang menerangkan apalagi masyarakat di pedukuhan ini juga jarang mendapatkan hiburan sehingga acara semacam ini memang perlu diselenggarakan. Selain itu, digelarnya acara ini sebagai ajang berkumpul dan silaturahmi masyarakat perdesaan di tengah kesibukan sehari-harinya. Lebih lanjut, Dinas Pariwisata DIY sendiri memberikan dukungan berupa dana untuk penyelenggaraan acara ini.

Di sisi lain, lokasi pedukuhan ini yang dekat dengan banyak tempat wisata juga membuka pengaruh dari budaya luar daerah. Disampaikan pula memang harus dibangun kepedulian budaya lokal agar tidak tergerus kemajuan teknologi.

Mendatang, kalangan muda juga akan diajak ikut serta berpartisipasi dalam melestarikan budaya lokal dalam berbagai bentuk kesenian daerah. Bambang menyebutkan setidaknya wayangan, tari srandul, shalawatan gaya lama akan menjadi salah satu yang akan kembali dihidupkan dengan partisipasi masyarakat.

Puluhan masyarakat hadir menonton pertunjukkan jathilan yang digelar lengkap dengan kelompok musiknya. Selain masyarakat pedukuhan setempat, penonton juga banyak yang datang dari kecamatan sekitarnya.

Dian, salah satu remaja yang hadir menonton mengaku jarang bisa mendapatkan kesempatan langsung menyaksikan pertunjukkan jathilan tersebut. “Apalagi kan ada kayak hilang kesadaran gitu, menarik,” katanya yang hadir bersama kakaknya dari desa sebelah.