Ada yang Aneh dengan Kebakaran di Musala Faturrahman Bantul

12 Maret 2018 18:23 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Warga Dusun Kepanjen RT 03, Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan awalnya tidak ambil pusing dengan kebakaran yang terjadi di Musola Faturrahman

Harianjogja.com, BANTUL- Warga Dusun Kepanjen RT 03, Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan awalnya tidak ambil pusing dengan kebakaran yang terjadi di Musola Faturrahman.

Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=902239">Gazebo dan Mihrab Musala di Bantul Terbakar Misterius

Namun, kehebohan terjadi pendidik PAUD KB Kasih Ibu, Sudarman menemukan kebakaran di ruang musala pada Senin (12/3/2018) pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

Kompleks bangunan dua lantai tersebut merupakan kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banguntapan Selatan dan kantor ranting Muhammadiyah Jambidan yang sekaligus digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Saat pagi hingga sore hari, lantai satu difungsikan sebagai Paud KB Kasih Ibu sedangkan usai sekolah hingga pukul 17.00 WIB dipakai untuk TPA Faturrahman. Sedangkan lantai dua digunakan untuk musola.

Ditemui di lokasi kejadian, Sudarman menceritakan mulanya ia datang seperti biasa ke sekolah. Namun sesampainya di sekolah, ia merasa heran karena pintu musala di lantai dua terbuka. Padahal biasanya pintu tersebut tertutup rapat, menghindari banyaknya burung yang terkadang membuang kotoran sembarangan.

Sudarman pun bergegas naik dan mendapati di tempat mihrab (imam) ada karpet, sajadah, dan sarung yang ditumpuk menjadi satu namun sudah gosong terbakar. Namun saat itu, api sudah padam dan hanya menyisakan residu pembakaran yang berwarna kehitaman.

Menurutnya kebakaran hanya terjadi di titik itu saja sebab tidak terdata karpet di tempat makmum. Sedangkan dinding-dinding musola juga tidak terkena rembetan api, hanya sedikit kehitaman terpapar asap.

"Pagi sebenarnya ada pengajian dari jam 05.30 sampai 06.30 tapi di lantai bawah. Yang bersih-bersih sekolah juga sudah datang tapi tidak ada yang tau," katanya, Senin.

Mengetahui hal tersebut, Sudarman pun segera memberitahu pada salah satu aktivis Kokam dan kemudian bersama-sama melapor ke Polsek Banguntapan.

Lebih lanjut ia menduga kebakaran yang terjadi ini tidak wajar. Khususnya kebakaran yang terjadi di dalam musola yang hanya terlokalisir di satu titik saja. Apalagi saat TPA sudah tutup, praktis tidak ada orang lagi yang memanfaatkan musola tersebut untuk berkegiatan.

Begitu pula dengan gazebo yang letaknya jauh dari sumber api. Namun ia mengaku tidak melihat ada tanda-tanda orang mencurigakan yang berada di sekitar kompleks tersebut beberapa hari terakhir.

"Meskipun ada dugaan disengaja kami yakin tidak punya musuh. Masyarakat di sini hidup berdampingan, tidak ada saling curiga," imbuhnya.