Advertisement
Bantul Art Festival, Pestanya Wong Bantul
Hadroh Rodad dalam acara Bantul Art Festival di depan kantor BRI Cabang Bantul. Pentas Hadrod Rodah hanya salah satu kesenian yang ditampilkan karena ada tiga panggung lain yang mempertontonkan atraksi berbeda. Gambar diambil Minggu (22/7/2018). - Harian Jogja/David Kurniawan.
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL– Panitia Bantul Art Festival (BAF) 2018 puas dengan penyelenggaraan kegiatan pentas seni yang terselenggara selama dua hari. Hal ini terlihat dari antusiasme warga menyaksikan kegiatan dari pembukaan hingga akhir.
Koordinator Panitia BAF 2018, Riza Marzuki mengatakan penyelenggaraan pentas seni yang berlangsung selama dua hari menjadi ewuhe wong (pestanya orang) Bantul. Hal ini tidak lepas dari kehadiran masyarakat untuk menyaksikan kegiatan tersebut.
Advertisement
Sebagai gambaran, sambung Riza, pada saat pembukaan di Lapangan Paseban pada Sabtu (21/7/2018) malam, penonton membludak sampai ke jalan. “Kami berterimakasih atas kehadiran masyarakat dalam BAF 2018,” kata Riza kepada Harianjogja.com, Minggu (22/7/2018) malam.
Menurut dia, alasan BAF disebut sebagai pestanya orang Bantul karena sebagai rangkaian memperingati Hari Jadi Kabupaten Bantul ke-187. Selain itu, di dalam pentas seni ini masyarakat bisa ikut berpartisipasi di dalam setiap pertunjukan yang dihadirkan.
BACA JUGA
“Partisipasi ini dilakukan agar tidak ada sekat antara penonton, tamu undangan hingga para pemain sehingga seluruh warga yang hadir bisa menjadi satu tanpa ada sekat yang membatasi,” ungkapnya.
Riza menambahkan, BAF tidak hanya sebatas untuk menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Namun acara ini juga untuk mengenalkan potensi kesenian yang dimiliki di Bantul. Di dalam pementasan, terdapat tiga kesenian yang diangkat, yakni Kentong Rampak, Rodad yang terdiri dari rebab hingga penari leyek.
Sedangkan satu seni lagi yang ditampilkan adalah instalasi kesenian janur. “Kami butuh melakukan riset dan akhirnya memilih tiga kesenian ini untuk ditampilkan,” tutur dia.
Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Sunarto mengaku senang dengan penyelenggaraan BAF 2018. Ia pun berjanji akan memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya. “Pasti akan ada evaluasi dan dijadikan dasar untuk penyelenggaraan di tahun mendatang,” katanya.
Menurut dia di dalam penyelenggaraan kegiatan, dinas kebudayaan tidak sendiri karena juga melibatkan pihak lain seperti Institut Seni Indonesia (ISI) DIY, SMKI, SMSR, Sekolah menengah Musik. Total dalam Bantul Art Festival akan melibatkan 1.037 pelaku seni. “Untuk pementasan diselenggarakan di sepanjang Jalan Sudirman. Adapun pementasan terdiri dari karawitan, jathilan, instalasi perupa, ketoprak, pangung sastra, hadroh-rodad, film, keroncong, tari kolosal, wayang orang hingga wayang kulit,” tuturnya.
Untuk pementasan BAF 2018, di hari terakhir memperunjukan beberapa atraksi. Sebagai contoh, di depan Masjid Agung Bantul terdapat pentas wayang orang, Hadroh Rodad di panggung depan BRI Bantul, sedang di depan Polres digelar atraksi jathilan. Sebagai penutup rangkaian acara digelar wayang semalam suntuk di Lapangan Paseban, Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








