Advertisement
Sudah Muncul Kubah Lava, Seperti Ini Prediksi Erupsi Efusif Merapi
Foto kubah lava baru Merapi - Ist/BPPTKG
Advertisement
Harianjogja.com JOGJA- Adanya kubah lava baru di Gunung Merapi telah menandai dimulainya erupsi efusif [lelehan]. Namun demikian berapa lama waktu erupsi efusif akan terjadi tidak dapat diprediksi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY Hanik Humaida mengatakan kubah lava di puncak Merapi masih terus tumbuh. Pihaknya pun terus melakukan pantauan terhadap aktivitas tersebut.
Advertisement
Akan tetapi aktivitas yang menandai terjadinya erupsi erusif itu tidak dapat diprediksi berapa lama akan terjadi. "Kami tidak dapat memperkirakan secara eksakta. Kami pantau saja perkembangannya," kata dia, Sabtu (25/8/2018)
Lanjutnya lagi dalam erupsi efusif ini pihaknya tidak dapat menyamakan dengan erupsi-erupsi Merapi yang sebelumnya pernah terjadi. Pasalnya erupsi Merapi yang terjadi selalu berbeda baik dari segi lama waktu erupsi maupun ukuran erupsinya.
BACA JUGA
"Tidak bisa [dibandingkan dengan erupsi sebelumnya], jadi kita tunggu perkembangannya. Memang Merapi ini secara garap besar [erupsinya] seperti itu, tapi secara kecepatan [erupsi] dan lain sebagainya itu beda-beda sekali," kata Hanik.
Sebelumnya Kepala Seksi Gunung Merapi, BPPTKG DIY, Agus Budi Santoso mengatakan akhir-akhir ini kegempaan cukup intensif di puncak Gunung Merapi. Gempa terjadi di permukaan misalnya gempa LF (Low Frequency) dan gempa guguran.
Hal ini menurutnya wajar karena memang pada saat ini pada fase pertumbuhan kubah lava. Dan berdasarkan pengamatannya pertumbuhan relatif sama dibanding hari-hari sebelumnya.
Agus menyebut bahwa erupsi Merapi kali ini memang cenderung menuju efusif. Namun demikian yang harus diwaspadai dari erupsi efusif adalah ketika kubah lava sudah mulai penuh.
"Ketika kubah lava muncup-muncup. Kemudian tidak stabil karena muncup-muncup itu lalu mengakibatkan longsor. Dan longsor ini mengakibatkan awan panas atau wedus gembel. Jadi yang kami antisipasi itu adalah awan panas dari guguran kubah lava ini," kata dia.
Namun demikian hingga saat ini memang belum ada guguran kubah lava yang mengakibatkan awan panas. Pasalnya kubah lava masih stabil dan pertumbuhannya juga masih rendah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








