Advertisement

Ini Penjelasan BPPTKG soal Potensi Erupsi Eksplosif Gunung Merapi

Irwan A Syambudi
Sabtu, 25 Agustus 2018 - 11:50 WIB
Bhekti Suryani
Ini Penjelasan BPPTKG soal Potensi Erupsi Eksplosif Gunung Merapi Gunung Merapi Waspada, Selasa (22/5/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA- Gunung Merapi kini telah memasuki fase erupsi dan cenderung terjadi erupsi efusif.

Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY, Agus Budi Santoso mengatakan akhir-akhir ini kegempaan cukup intensif di puncak Gunung Merapi. Gempa terjadi di permukaan misalnya gempa LF (Low Frequency) dan gempa guguran.

Advertisement

Hal ini menurutnya wajar karena memang pada saat ini pada fase pertumbuhan kubah lava. Dan berdasarkan pengamatannya pertumbuhan relatif sama dibanding hari-hari kemarin.

Agus menyebut bahwa erupsi Merapi kali ini cenderung menuju efusif. Namun demikian yang harus diwaspadai dari erupsi efusif adalah ketika kubah lava sudah mulai penuh. "Ketika kubah lava muncup-muncup. Kemudian tidak stabil karena muncup-muncup itu lalu mengakibatkan longsor. Dan longsor ini mengakibatkan awan panas atau wedus gembel. Jadi yang kami antisipasi itu adalah awan panas dari guguran kubah lava ini," kata dia, Jumat (24/8/2018).

Proses terjadinya awan panas itu dapat terjadi ketika guguran kubah lava terus aktif dan mengandung gas yang tinggi. Hal itu dapat menyebabkan terjadi awan panas dan tidak tergantung seberapa besar guguran kubah lava.

Lanjutnya lagi erupsi sebetulnya ada dua yakni erupsi efusif dan eksplosif atau berupa ledakan besar. Keduanya berbeda dan bukan merupakan sebuah tahapan dalam erupsi gunung merapi.

"Jadi yang namanya erupsi itu istilah untuk magma yang mulai keluar dari gunung. Dengan adanya kubah lava kemarin yang muncul 11 Agustus itu sudah masuk fase erupsi. Erupsi sendiri ada dua macam yaitu efusif dan eksplosif. Dua ini tidak terjadi berurutan. Kalau efusif ya efusif tidak akan eksplosif. Kalau terjadi kombinasi keduanya itu jarang-jarang," jelasnya.

Agus menegaskan bahwa saat ini belum ada guguran kubah lava ulang mengakibatkan terjadinya awan panas. Pasalnya saat ini kubah lava masih stabil dan pertumbuhan juga masih rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Sheila on 7 Bikin Konser di Medan, Pertumbuhan Sektor Pariwisata di Sumut Ikut Subur

News
| Kamis, 25 April 2024, 13:07 WIB

Advertisement

alt

Rekomendasi Menyantap Lezatnya Sup Kacang Merah di Jogja

Wisata
| Sabtu, 20 April 2024, 07:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement