40 Ribu Lebih Kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul Aktif Lagi
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Udin, salah seorang petani bawang merah di Desa Srigadin, Sanden, menyirami tanaman bawang merah yang dimiliki, Rabu (25/7/2018). Penyiraman rutin dilakukan agar tanaman dapat tumbuh subur sehingga panen dapat lebih maksimal./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL – Petani di wilayah Bantul mengeluhkan rendahnya nilai jual harga bawang merah di pasar. Penurunan harga ini terjadi karena stok komoditas di pasaran yang melimpah.
Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Bantul, Suroso mengatakan, memasuki masa panen bawang merah, penurunan harga tidak bisa dikendalikan. Pada saat sebelum panen, harga sempat di kisaran Rp15.000 per kilogram, namun harga saat ini hanya Rp8.000 per kilogram.
“Harga anjlok, awalnya 15.000, trus turun menjadi 12.000 per kilogram. Sempat lama di harga Rp10.000, namun sekarang turun menjadi Rp8.000 per kilogram,” kata Suroso kepada wartawan, Kamis (6/9/2018).
Harga yang terus anjlok ini membuat para petani khwatir karena pemeliharaan tanaman bawang merah yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dia pun berharap harga kembali naik sehingga petani tidak merugi.
Menurut dia, dengan kondisi harga saat ini, masih ada keuntungan yang didapatkan, meski jumlahnya tidak banyak. Sebagai gambaran biaya, lahan seluas satu hektare, mulai dari pembelian bibit, obat, upah tenaga, dan perawatan sampai panen membutuhkan biaya sekitar Rp95 juta.
Sementara, saat panen petani bisa mendapatkan hasil maksimal 15 ton bawang merah. “Ini kalau panen maksimal, tapi setiap lahan panennya tidak sama,” katanya.
Permasalahan yang dihadapi tidak hanya turunnya harga bawang merah. Hal ini terjadi karena para tengkulak tidak berani membayar secara kontan. “Para tengkulak mengaku ke petani jika menjual bawang merah sekarang sulit sehingga pembayaran tidak dilakukan dengan kontan,” keluhnya.
Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul Pulung Haryadi mengatakan, pihaknya masih melakukan pengamatan terhadap anjolknya harga bawang merah. Ia tidak menampik, salah satu faktor turunnya harga karena banyaknya stok bawang merah di pasaran. “Memang di pasaran stok sedang melimpah. Tidak hanya dari Bantul saja karena stok dari luar daerah juga banyak,” katanya.
Menurut dia, untuk menekan kerugiaan, para petani bisa melakukan antisipasi dengan menekan biaya pemeliharaan. Salah satunya dengan menggunakan benih berupa biji bawang merah. “Kalau menggunakan biji, maka biaya produksi bisa ditekan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.
PSS Sleman memastikan seluruh pemain lokal anyar telah tiba di Sleman dan menjalani MCU. Persiapan tim terus dimatangkan untuk musim kompetisi 2026.