DIY Percepat Pengembangan Ekonomi Melalui Potensi Lokal

Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo (berdiri) saat presentasi dalam Government Gathering, Selasa (20/11/2018). - Harian Jogja/Sunartono
21 November 2018 06:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sejumlah kabupaten di DIY berupaya mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan potensi lokal. Sementara akademisi mendorong perhatian pada pentingnya infrastruktur jalan lokal sebagai salah satu alat mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Isu tersebut dibahas dengan melibatkan sejumlah kabupaten lain dari Jawa Tengah dalam acara Government Gathering yang digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Asri Medical Center (AMC) Kota Jogja, Selasa (20/11/2018).

Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan, Kulonprogo selama beberapa tahun terakhir telah mengembangkan program Bela Beli Kulonprogo untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Program itu ditekankan memanfaatkan potensi lokal sehingga tidak perlu membeli barang dari luar. Salah satunya, produksi air minum dalam kemasan dengan memanfaatkan mata air lokal. Produksi ini telah menguasai sekitar 24% pasar air minum di Kulonprogo yang mampu bersaing dengan air minum kemasan dari perusahaan terkemuka lainnya. Dengan adanya produk tersebut mampu memberikan dampak perekonomian kepada masyarakat karena perputaran uang tidak sampai keluar daerah.

"Kalau air minum saja beli ke yang lain, itu uangnya mengalir ke Prancis, sedih sekali. Maka Kulonprogo membuat air minum sendiri," katanya dalam pertemuan itu, Sabtu (20/11/2018).

Ia menambahkan Pemkab Kulonprogo juga berusaha mempengaruhi seluruh elemen masyarakat dengan memberdayakan potensi lokal tanpa harus membeli dari luar daerah. Mulai dari petani hingga peternak masing-masing memiliki semangat yel-yel tersendiri untuk menekankan pemberdayaan lokal tanpa harus membeli kebutuhan di luar daerah.

"Jadi misalnya ingin makan daging ayam tidak perlu harus ke kota untuk makan fried chicken, tetapi cukup membeli ayam tetangganya kemudian disembelih dan dimasak sendiri. Perputaran uangnya hanya di sini saja, ini sanget efektif untuk ekonomi lokal," ujarnya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Gunungkidul Azman Latif mengatakan sejumlah program strategis yang dijalankan Gunungkidul seperti peningkatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi serta kemudahan berinvestasi. Selain itu meningkatkan infrastruktur untuk menarik investasi di Gunungkidul. Sektor wisata melakukan pengelolaan dan promosi wisata, peningkatan sarana prasarana wisata hingga pengelolaan Geopark Gunungsewu.

"Kami mempermudah izin investasi, seperti meminta tandatangan izin itu tidak harus bertemu tetapi sudah memakai tandatangan digital, jadi lebih cepat," ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Gunungkidul ini menegaskan, dukungan pemberdayaan masyarakat di kawasan wisata juga dilakukan. Sejumlah potensi lokal yang awalnya dianggap tidak bernilai, kini banyak disulap menjadi objek wisata yang bisa mendatangkan wisatawan dan berdampak pada perekonomian lokal.

"Koneksi jalan untuk mendukung wisata ini juga kita lakukan. Kalau dulu jalan menuju Gunungkidul hanya melewati Patuk, 2019 dari Playen lewat Prambanan akan segera bisa dioperasikan," katanya.

Pemerhati Bidang Infrastruktur Fakultas Teknik UMY Prof. Agus Setyo Muntohar menyorot soal infrastruktur di DIY yang seringkali hanya bertahan semusim saja karena rusak di saat hujan tiba. Di DIY jalan daerah yang paling cepat rusak berdasarkan pengamatannya di sejumlah titik jalan nasional di Sleman dan Bantul. Selain itu jalan kabupaten di DIY juga termasuk rawan rusak karena kualitasnya rendah. Penyebabnya selain karena pelaksanaan proyek tidak berjalan sesuai standar juga minimnya kontrol terhadap lalu lintas jalan sehingga banyak kendaraan bertonase tinggi nekat melintas. Padahal infrastruktur jalan menjadi faktor penting dalam meningkatkan perekonomian lokal.

"Kebetulan kami punya beberapa teknologi untuk pengerasan jalan tersebut. Harapannya dengan kerja sama dengan kabupaten ini ke depan bisa membantu untuk pengembangan infrastruktur jalan ini. Karena jalan sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Dalam kesempatan itu UMY menandatangani kerjasama dengan sejumlah kabupaten baik di area DIY maupun luar DIY. Antara lain kabupaten Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo, Sleman, Kota Jogja, Bojonegoro, Ogan Ilir, Boyolali, Berau, Purworejo, Kebumen dan Kabupaten Pemalang.