Sudah Dilelang, Underpass NYIA Mulai Digarap Desember

Ilustrasi underpass - JIBI
24 November 2018 10:50 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemerintah memastikan pembangunan underpass sepanjang satu kilometer di Kwasan bandara baru Kulonprogo, New Yogyakarta International Airport (NYIA) akan dimulai pada Desember 2018 mendatang. Pekerjaan ini diprediksi baru selesai sekitar 40% di saat NYIA dioperasikan pada April 2019 mendatang.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Kretek 2 dan Underpass Kentungan Cs. Wilayah DIY Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Muhammad Sidik Hidayat menjelaskan proyek pembangunan terowongan sepanjang satu kilometer di NYIA telah memasuki tahap kontrak pemenang lelang pada pekan lalu.

Ia menargetkan pengerjaan fisik terowongan itu akan dimulai pada akhir November atau awal Desember 2018 mendatang. Ia mengakui, proyek itu belum rampung ketika NYIA beroperasi, sesuai ketentuan lelang pengerjaan dilakukan selama 13 bulan.

"Sesuai lelang pengerjaan 13 bulan [target selesai Desember 2019], kalau sampai April 2019 [rencana operasional NYIA] mungkin kami 40 persen pengerjaan. Kalau schedule kami kemungkinan dari bagian tengah [ruas terowongan] dulu yang dikerjakan, tetapi bisa berubah tergantung nanti koordinasi dengan AP I," terang di Kantor PPK Jembatan, Perum Bina Marga, Ringroad Timur, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jumat (23/11/2018).

Terkait pengerjaan terowongan itu harus melalui koordinasi intens dengan pelaksanaan proyek pengerjaan NYIA. Mengingat, titik proyek yang ia kerjakan berada di bawah area NYIA yang juga sedang dalam pengerjaan dengan pelaksana proyek yang berbeda.

Pihaknya akan menyesuaikan dengan PT Angkasa Pura yang memegang kendali proyek pembangunan NYIA. Posisi satu kilometer terowongan yang akan dikerjakan tepat berada di bawah ruang yang menghubungkan antara terminal kedatangan dengan tempat parkir NYIA.

Sidik memastikan meski belum selesai di saat operasional NYIA, namun pengerjaan terowongan tidak akan menganggu beroperasinya bandara. Pembangunan akan dilakukan pada titik vital yang sekiranya akan dipakai bangunan bagian atasnya. "Terowongan ini kan mengembalikan fungsi jalan agar tetap ada, jadi tidak ada tembusan khusus dari terowongan itu menuju bandara," katanya.

Asisten Perencanaan Satker Perencanaan dam Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Nandang Sungkono mengatakan berdasarkan perencanaan terowongan sepanjang satu kilometer itu sendiri tepat berada di bawah kompleks NYIA. Pembebasan lahan yang sebenarnya hanya butuh yang paling utama yaitu untuk titik inlet dan outlet terowongan berada di sisi barat dan timur. Mengingat sepanjang satu kilometer merupakan Jalan Daendels yang saat ini telah menjadi lahan milik NYIA.

Adapun panjang total sebenarnya 1,3 kilometer dengan rincian satu kilometer untuk terowongan dan 300 meter untuk inlet dan outlet di sisi barat dan timur masing-masing 150 meter luasnya. "Kebutuhan pembebasan paling banyak ya di titik inlet dan outlet itu. Karena jalan daendels kan sudah jadi milik NYIA," katanya.