Indonesia Raya Berkumandang di Meizhou

Michelle Hibono - Ist./Michelle Hibono
29 November 2018 11:30 WIB Rheisnayu Cyntara Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Proses karantina yang harus dilakoni oleh Michelle Hibono di Meizhou, Tiongkok membangkitkan banyak kesan baginya. Tinggal selama kurang lebih tiga minggu di tanah asli leluhurnya tersebut, membuat Michelle menemukan pengalaman-pengalaman baru yang tak dapat ia lupakan. Apalagi saat lagu kebangsaan Indonesia Raya pun berkumandang di Negeri Tirai Bambu ini.

Meizhou, Tingkok salah satu daerah asal muasal Hakka ini sebelumnya terasa jauh bagi Michelle. Sebuah wilayah yang terletak di daerah timur laut Provinsi Guangdong, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Fujian, sebelah selatan berbatasan dengan Chaozhou, Jieyang dan Shanwei. Pasalnya ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Meizhou yang terkenal dengan julukan sebagai Ibukota Hakka ini.

Maka saat ia mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia di ajang Hakka Amoi Internasional 2018, Michelle merasa sangat beruntung. Ia bersama dua perwakilan Indonesia lainnya, yakni Amoi Sheline Lie (Hakka Bandung) dan Amoi Lussi (Hakka Singkawang) terbang ke Meizhou untuk menjalani proses karantina sejak 11 November lalu. “Kami disambut baik oleh pemerintah setempat. Bahkan diajak makan malam dan berjalan-jalan,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon oleh Harian Jogja pada Rabu (28/11).

Berbagai tempat mereka datangi. Seperti ke Shong Khou, tempat di mana mereka mempelajari sejarah migrasi orang Hakka dari utara ke selatan. Pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota Hakka juga membuat Michelle banyak belajar tentang sejarah Hakka merupakan kelompok Tionghoa Han terakhir yang bermigrasi ke selatan dari Tiongkok Utara secara bertahap semenjak abad ke-4 Masehi karena bencana alam, perang dan konflik. Migrasi keluar dari Tiongkok ini terjadi secara besar-besaran, hingga menjadi salah satu kelompok terbesar Tionghoa seberang laut. Pasalnya sampai saat ini, komunitas Hakka tersebar di berbagai provinsi di Tiongkok dan bahkan di negara-negara di dunia. “Di Shong Khou saya mengunjungi tempat pelabuhn kapal yang dahulunya membawa orang-orang Hakka pergi sampai ke Indonesia. Jadi lebih paham karena bisa belajar langsung dari sumbernya,” ujarnya.

Pemerintah setempat juga mengajak mereka berjalan-jalan untuk menikmati keindahan alam di Tian Xia, dan ke sekolah di wilayah Jiaolin. Di sekolah inilah, Michelle mengaku punya pengalaman yang berkesan. Ia masuk ke dalam kelas bahasa Indonesia di kelas VII. Meskipun kelas ini merupakan kelas tambahan, antusiasme anak-anaknya sangat tinggi untuk mempelajari Indonesia. Bahkan gurunya pun didatangkan langsung dari Indonesia yang mengajarkan mereka tentang bahasa dan lagu-lagu Indonesia. Michelle bersama dua Amoi lainnya masuk untuk menyapa, memperkenalkan diri, dan menguji tingkat pemahaman mereka akan bahasa Indonesia yang selama ini telah mereka pelajari. “Mereka antusias banget, very welcome, sampai mengajak kami berfoto bersama. Bahkan lagu Indonesia Raya juga diajarkan di sini,” ucapnya dengan sumringah.

Meski harus menghadapi kendala bahasa yang pengucapan maupun pelafalannya berbeda dengan apa yang selama ini ia dengar, Michelle mengaku sangat menikmati hari-harinya selama berada di tanah leluhurnya ini. Orang-orang di Meizhou menurutnya sangat ramah dan ringan tangan. Ia tak merasa kesulitan untuk berada di wilayah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Michelle juga tak kikuk untuk beradaptasi dengan cuaca setempat. Apalagi kulinernya juga sangat sesuai dengan lidahnya. “Meskipun ini pertama kalinya saya ke Meizhou dan kedua kalinya saya ke Tiongkok, tak ada kendala berarti yang saya hadapi di sini. Semuanya menyenangkan,” tuturnya.