Selain Nisan Salib Dipotong, Keluarga Almarhum Tidak Boleh Gelar Doa di Rumah

Makam Albertus Slamet Sugihardi yang dipotong salibnya, di TPU Purbayan Kotagede. - Harian Jogja/Abdul Hamied Razak
18 Desember 2018 17:15 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kasus pemotongan nisan salib di Makam Purbayan Kotagede Jogja menghebohkan warga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Salib di makam Albertus Slamet Sugihardi, 60, warga Purbayan Kotagede, di Tempat Pemakaman Umum (TPU), Senin (17/12/2018) sekitar pukul 14.00 WIB dipotong oleh warga dengan alasan adanya kesepakatan warga kampung.

Albertus Sunarto Humas Gereja Santo Paulus Pringgolayan Banguntapan, Bantul menjelaskan Slamet meninggal pada pukul 08.00 WIB. Dia juga berembuk dengan salah seorang sesepuh warga, Bejo Mulyono, agar Slamet bisa dimakamkan di TPU Jambon di Purbayan.

Di TPU tersebut meski bukan TPU khusus Muslim tetapi digunakan oleh mayoritas muslimin. Namun, sekitar pukul 13.00 WIB, ada semacam reaksi dari warga kampung. Mereka tidak membolehkan Slamet di makamkan di tengah pemakaman tetapi di bagian pinggir. "Oke, tidak ada masalah,” kata Narto, Selasa (18/12/2018).

Pusaran yang awalnya berada di tengah, kemudian diganti ke pinggiran. Sebelum dikebumikan, ada permintaan lagi dari warga. Menurut Narto, keluarga tidak diperkenankan melakukan doa-doa sejak pemberangkatan jenazah hingga proses pemakaman di TPU selesai.

Belum selesai kegundahan pelayat yang datang, malam harinya saat akan dilakukan doa-doa di rumah duka, warga lagi-lagi menolak prosesi itu digelar. “Akhirnya, pembacaan doa-doa dilakukan ke gereja ini,” jelasnya.