Advertisement
Ketua RT Jelaskan Alasan Warga Potong Nisan Salib di Makam Purbayan
Makam Albertus Slamet Sugihardi yang dipotong salibnya, di TPU Purbayan Kotagede. - Harian Jogja/Abdul Hamied Razak
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA- Kearifan lokal menjadi alasan terjadinya pemotongan nisan salib makam Albertus Slamet Sugihardi, 60, warga RT 53 RW 13, Purbayan Kotagede, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jambon, Purbayan Kotagede.
Seorang tokoh masyarakat RT 53 RW 13 Purbayan Kotagede, Bedjo Mulyono mengatakan sudah ada kesepakatan antara warga yang diwakili Ketua RT 53 Sholeh Rahmad Hidayat dan Ketua RW 13 Slamet Riyadi dengan pihak keluarga.
Advertisement
Bahkan, kata Bedjo, Maria Sutris Winarni, 63, istri Slamet menandatangani kesepakatan tersebut secara tertulis. “Pernyataan tertulisnya hari ini dengan materai, tapi kemarin sudah disepakati secara lisan,” kata Bedjo, Selasa (18/12/2018).
Bedjo menolak jika hal itu bagian dari intoleransi. Menurutnya, apa yang dilakukan warga sudah sangat toleran terbukti jenazah Slamet dikebumikan di TPU tersebut. "Warga bahkan ikut membantu proses pemakaman. Hanya saja memang tidak diperbolehkan untuk menggunakan simbol agama," katanya.
BACA JUGA
Nur Hudin, tokoh masyarakat lainnya mengaku keluarga Slamet sebenarnya sudah menyatakan ikhlas. Keluarga juga tidak mempersalahkan. "Ini jadi viral karena ada orang luar yang memviralkan. Keluarga itu sudah iklas. Kasihan mereka masih berduka,” katanya.
Ketua RT 53 RW 13 Soleh Rahmad Hidayat mengakui jika warga sepakat dan meminta keluarga untuk tidak melakukan ibadat dan doa untuk jenazah Slamet di rumahnya. Soleh berdalih itu dilakukan agar tidak memicu adanya konflik.
Meski dikatakan hal itu melanggar undang-undang dan HAM, Soleh berkilah jika ada kearifan lokal yang juga harus dihormati. "Kampung ada aturannya. Ada istiadat. Kuburan itu 99 persen kuburan Islam, baru ini saja yang non Islam. Ini kesepakatan warga dan pengurus kampung," katanya.
Dia mengaku jika pusara Slamet memang diperuntukkan di bagian pinggir bukan di tengah kompleks pemakaman. Warga juga meminta tidak boleh ada simbol kristen di komplek pemakaman itu karena sudah menjadi permintaan warga yang ingin menjadikan komplek makam itu khusus muslim.
Soleh mengatakan simbol agama tidak diperbolehkan di makam karena menjadi aturan tak tertulis. Jika aturan itu dilanggar, dia khawatir akan menimbulkan konflik di masyarakat. "Ke depan, TPU tersebut akan dijadikan TPU muslim sebagai bagian dari sepakatan warga,” ujar Soleh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement







