Sambut NYIA Semua Pasar di Sisi Selatan Kulonprogo Diminta Buka Tiap Hari

Harga cabai di Pasar Wates, Kecamatan Wates mengalami penurunan harga, Kamis (17/1). Penurunan harga paling terasa pada komoditas cabai merah keriting yang kini harganya Rp8.000 per kilogram. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
19 Januari 2019 09:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Dinas Perdagangan Kulonprogo meminta seluruh pasar di sisi selatan Kulonprogo untuk buka setiap hari guna menyambut hadirnya New Yogyakarta Intenational Airport (NYIA) di Kecamatan Temon yang rencananya akan beroperasi pada April 2019 ini.

"Kami perintahkan buka tiap hari, tidak hanya saat pasaran saja. Ini untuk mendukung bandara khususnya pasar di selatan, mulai dari Pasar Glagah, Temon, Ngaglik, Pripih, Kranggan, Brosot, Jombokan dan Bendungan," ungkap Kepala Disdag Kulonprogo, Krissutanto di kantornya, Selasa (15/1/2019) kemarin.

Dia mengatakan untuk mendukung hal ini agar dapat terealisasi, pihaknya tengah berkoordinasi dengan seluruh lurah pasar di masing-masing pasar, khususnya yang dilewati akses dari dan menuju bandara. Dia ingin cara ini mampu merangsang setiap pedagang pasar untuk berinovasi agar dapat menarik kunjungan adanya NYIA.

Imbauan untuk buka tiap hari ini tidak hanya agar pasar dapat menampung kunjungan para pengguna jasa pesawat, tapi juga sekaligus para pekerja di bandara tersebut. "Secara tidak langsung pekerja bandara kan butuh makan, jadi pasar itu harus siap, pedagang kudu menangkap peluang tersebut," kata Krissutanto.

Krissutanto mengatakan tahun lalu dua pasar di sisi selatan yaitu Pasar Kranggan dan Ngaglik sudah dilakukan revitalisasi. Langkah ini juga berkaitan untuk menunjang kesiapan pasar dalam menyambut NYIA. Adapun untuk tahun ini jawatannya mendapat kucuran dana dari Kementrian Perdagangan untuk merevitalisasi dua pasar, yaitu Pasar Jagalan dan Samigaluh.

Ketua DPRD Kulonprogo, Akhid Nuryati mengatakan imbauan agar pasar di sisi selatan Kulonprogo buka tiap hari perlu dikaji kembali. Hal ini mengingat setiap pasar punya hari pasarannya masing-masing. Ditambah tidak semua pedagang menetap dalam satu pasar, khususnya pedagang yang tidak memiliki kios permanen.

"Untuk yang kios mungkin bisa ya guna memenuhi kebutuhan pokok tiap hari, tapi kan ada yang berpindah-pindah sesuai hari pasarannya, dikhawatirkan nanti kalau hanya menetap untuk buka tiap hari justru tidak laku," kata Akhid.

Akhid meminta Disdag lebih bijak dalam mengeluarkan kebijakan pasar buka tiap hari. Ia juga berharap dapat memahami terlebih dahulu budaya pasar tradisional yang memiliki hari pasarannya sendiri. Jika disamakan untuk buka tiap hari menurutnya itu tidak efektif untuk saat ini.

Pasalnya menurut Akhid pada April mendatang NYIA baru beroperasi untuk penerbangan internasional. Dengan kata lain belum menyeluruh dalam menampung kunjungan. "Jangan terus dibuka April kita langsung gegap gempita dengan kebijakan ini, perlu dilihat dulu nanti perkembangannya seperti apa," ujarnya.