Membaca dan Menulis Jadi Kelemahan Peserta Tes Beasiswa ke Belanda

Kegiatan sosialisasi beasiswa Belanda di UIN Sunan Kalijaga, Kamis (14/2/2019) - Ist/Nuffic Neso.
14 Februari 2019 23:17 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sebuah lembaga nonprofit asal Belanda yang menangani kerja sama pendidikan tinggi Nuffic Neso mengakui materi membaca dan menulis bahasa Inggris menjadi kendala tersendiri bagi peserta tes beasiswa asal Indonesia yang akan ke Belanda. Nuffic Neso Indonesia turut berharap pemerintah memberikan infrastruktur kemudahan bagi mahasiswa, staf maupun dosen untuk mendapatkan beasiswa di Belanda. Guna merangkul banyak peminat dari kalangan akademisi untuk mendapatkan beasiswa ke Belanda, Nuffic Neso Indonesia menggelar sosialisasi di Rektorat UIN Sunan Kalijaga, Kamis (14/2/2019).

Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono mengatakan, ketertarikan pihak Belanda terhadap mahasiswa Indonesia cukup tinggi sehingga banyak peluang beasiswa disediakan. Hanya saja, butuh kesiapan yang tidak hanya sumber daya manusia saja, namun juga pemerintah dengan infrastrukturnya seperti penyediaan visa. Infrastruktur harus diberikan kemudahan baik untuk mobilitas mahasiswa, staf dan dosen dalam rangka mengambil peluang mendapatkan beasiswa di Belanda.

"Sehingga visa stundent ini sangat penting, karena kita berbicara tentang internasionalisasi pendidikan tinggi harus menyeluruh. Informasinya sekarang sudah mulai ada visa student yang dikeluarkan Kemenkumham semoga ke depan bisa lebih banyak peluang," terangnya dalam keterangan persnya, Kamis (14/2/2019).

Indy mengatakan, standar kemampuan yang wajib dimiliki bagi calon penerima beasiswa adalah kemampuan berbahasa Inggris. Salah satu yang menjadi kelemahan peserta atau mahasiswa asal Indonesia yaitu terkait membaca dan menulis dengan Bahasa Inggris. Seringkali nilai speaking memang tergolong tinggi, namun di writing dan reading sangat lemah. Kenyataan ini tak lain karena budaya membaca di Indonesia masih tergolong rendah. Karena itulah bagi peserta yang lolos, pihaknya selalu memberikan pendampingan secara ketat agar menguasai bahasa.

"Hampir semua komponen writing jatuh [peserta tes beasiswa], jarang sekali writing dapat nilai 7, speaking mungkin bisa [nilai] 8, tetapi writing hanya 6. Kenapa? karena teman writing adalah reading, budaya membaca kita sangat memprihatinkan. Kita perlu sedikit mengingat saat pendidikan Belanda zaman dahulu selalu dihadirkan membaca karya sastra, itu agar ada kebiasaan membaca. Tetapi saat ini seringkali kalau presentasi pintar tetapi begitu menulis dan membaca sangat susah," katanya.

Indy Hardono menyatakan pentingnya belajar dan menimba ilmu serta pengalaman ke luar negeri. Kuncinya harus tahu cara efektif memilih program studi pilihan, serta gambaran dan rincian proses pengajuan beasiswa studi ke Belanda. Ia menuturkan, alasan kuliah di Belanda, selain mendapatkan ilmu akademis, pengalaman ke luar negeri merupakan kesempatan untuk mempelajari ide baru yang akan membantu memperluas sudut pandang dan toleransi tinggi dalam merespons berbagai persoalan. Studi ke luar negeri berarti international mobility, yang merupakan suatu keniscayaan untuk masa sekarang, demi masa depan.

"Belajar di luar negeri juga meningkatkan kesempatan di dunia kerja global. Perusahaan dari negara-negara di seluruh dunia terus berinvestasi di pasar internasional. Banyak lembaga memperhitungkan calon karyawan dengan international experience. Dengan ijazah luar negeri, kesempatan bekerja di dalam maupun luar negeri semakin terbuka lebar," ujarnya.

Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Waryono mengatakan minat para akademisi UIN Sunan Kalijaga untuk belajar di Belanda juga terus meningkat. Tetapi sebagian besar masih mengambil tentang islamic studies. Namun saat ini sudah berkembang pada ilmu umum seperti ilmu sosial hingga ilmu komunikasi yang turut diambil. "Sehingga respons mahasiswa kami sangat baik. Kebetulan kalau di kami [UIN Sunan Kalijaga] rata-rata yang kuat Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Beberapa dosen kami banyak yang lulusan Belanda," katanya.