Pendapatan Gunungkidul Turun Rp50,65 Miliar di APBD Perubahan 2026
DPRD Gunungkidul menuntaskan KUA-PPAS Perubahan 2026. Pendapatan daerah turun Rp50,65 miliar dan RAPBD harus segera dibahas.
Gua Pindul, Gunungkidul./JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul menyatakan proses pengelolaan objek wisata Gua Pindul di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, hingga saat ini belum padu. Hal ini terlihat dengan adanya dua pengelolaan untuk urusan retribusi dan jasa wisata susur gua.
Sekretaris Dispar Gunungkidul, Hary Sukmono, mengakui pengelolaan objek wisata di Gua Pindul belum sinkron. Hal ini terlihat masih adanya dua kepengurusan dalam pengelolaan. Pertama, pengelolaan untuk retribusi masuk yang dikomandoi oleh pemerintah desa setempat. Kedua, urusan jasa wisata susur gua dikelola oleh BUMDes Maju Mandiri, Desa Bejiharjo.
Menurut Hary idealnya dalam pengelolaan bisa satu paket kepengurusan sehingga data yang tersaji bisa satu pintu dan tidak memiliki versi yang berbeda. Salah satunya berkaitan dengan jumlah pengunjung yang masuk. “Ini yang harus diselesaikan,” kata Hary, Senin (18/2/2019).
Dia menjelaskan jika kondisi ini terus terjadi maka kondisinya tidak baik sehingga harus ada solusi. Ke depan, kata Hary, Dispar bakal memediasi agar pengelolaan bisa satu pintu antara penarikan tiket retribusi masuk dan jasa wisata susur gua. “Kami bakal memfasilitasi karena jika dirunut semuanya masih dalam satu kesatuan. Jadi nantinya akan disinkronkan agar pengelolaan menjadi satu,” kata mantan Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dispar Gunungkidul ini.
Disinggung mengenai tingkat kunjungan wisata di Gua Pindul, Hary mengakui pada Februari ini turun jika dibandingkan dengan kunjungan di Januari 2019. Menurut dia kondisi ini wajar karena di awal tahun masih ada momen liburan sehingga mendongkrak tingkat kunjungan. “Februari sedikit menurun, hingga pertengahan bulan kunjungan baru di angka 4.109 pengunjung. Pada Januari kunjungan mencapai 9.094 orang,” katanya.
Direktur BUMDes Maju Mandiri, Desa Bejiharjo, Saryanto, mengatakan, pihaknya hanya mengelola retribusi berkaitan dengan jasa wisata susur gua. Untuk retribusi masuk pengelolaannya ditangani Pemdes Bejiharjo. “Jadi ada dua, tiket masuk sendiri dan jasa susur gua sendiri. Keduanya memiliki pengelola sendiri,” kata Saryanto.
Untuk permasalahan ini ia menyerahkan sepenuhnya kepada Dispar Gunungkidul selaku instansi teknis yang menangani masalah kepariwisataan. “Kami bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul menuntaskan KUA-PPAS Perubahan 2026. Pendapatan daerah turun Rp50,65 miliar dan RAPBD harus segera dibahas.
PBB mengerahkan bantuan dan personel kemanusiaan untuk korban banjir Nepal. Sedikitnya 160 orang tewas dan lebih dari 680 orang hilang.
Kekeringan Gunungkidul meluas. Warga Semin menggali aliran Kali Oya yang mengering untuk mendapatkan air bersih.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memperkuat dukungan kepada Rumah Makan Pagi Sore melalui layanan transaksi digital, pengelolaan keuangan,
Sebanyak 170 pendaki Gunung Semeru dievakuasi akibat kebakaran hutan. TNBTS memastikan seluruh pendaki dalam kondisi aman.
BNPB mencatat 105 orang meninggal, 1.678 luka-luka, 179.037 mengungsi, dan 81.436 rumah terdampak akibat gempa Flores.