Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 Lengkap
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Ilustrasi hujan abu dilaporkan terjadi di Kali Bebeng, Cawang Kulon, Kemiren, Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. /Ist-twitter @BPPTKG
Harianjogja.com, SLEMAN--Kawasan lereng Gunung Merapi terjadi hujan abu tipis sebagai dampak dari luncuran awan panas yang terjadi Sabtu (2/3/2019) pagi. Masyarakat kawasan lereng Merapi tetap beraktivitas seperti biasa.
Warga Dusun Balong, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Susilo mengatakan, ia mendapatkan informasi terkait adanya peningkatan aktivitas merapi melalui berbagai medsos. Sekitar pukul 06.30 WIB, ia merasakan adanya hujan abu di sekitar dusunnya. Berdasarkan pemantauannya hujan abu tipis terjadi di sebagian besar kawasan lereng Merapi. "Kalau pengamatan saya tadi di dusun saya, kemudian sebelahnya, itu ada [dusun] Pelemsari, Tangkisan dan Pangukrejo itu juga hujan abu, merata, tetapi tipis," terangnya kepada Harian Jogja, Sabtu (2/3/2019).
Susilo menambahkan, selama hujan abu berlangsung, masyarakat banyak yang menggunakan masker, terutama para pengemudi wisata jip Merapi. Hujan abu itu menurutnya diperkirakan hanya berlangsung sekitar 30 menit saja. "Sekitar 30 menit, karena dari pukul 06.30 WIB, sekitar 07.00 WIB itu sudah reda, nggak ada hujan abu lagi, itu pengamatan saya. Sekarang malah sudah mulai hujan air," katanya.
Susilo memastikan warga sekitar lereng Merapi beraktivitas seperti biasa. Bagi pelaksana wisata juga menjalankan kegiatan seperti biasa begitu juga warga yang bercocok tanam. "Saat ini kegiatan seperti biasa, kebetulan saya juga sedang bercocok tanam ini, aman terkendali," ujarnya.
Sebelumnya Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menjelaskan, berdasarkan pemantauan Sabtu (2/3/2019) pagi terjadi tujuh kali awan panas guguran dengan amplitudo 52 hingga 69 milimeter. Luncuran dengan jarak maksimal dua kilometer itu terjadi secara beruntun yaitu pukul 04:51, 04:54, 05:03, 05:07, 05:10, 05:33 dan 05:40.
“Awan panas guguran sebanyak tujuh kali dengan durasi antara 56 hingga 190 detik,” kata Hanik.
Berdasarkan pantauan Sabtu (2/3/2019) periode antara puku 00.00 WIB hingga 06.00 WIB juga terjadi 21 guguran dengan durasi antara 11 hingga 30 detik. Adapun gempa fase banyak tercatat satu kali, gempa vulkanik dangkal sekali dan embusan sebanyak 14 kali dengan durasi 11 hingga 30 detik.
Hanik memastikan tingkat aktivitas Merapi masih berada di level II atau waspada. Sejumlah rekomendasi pun tidak berubah seperti sebelumnya, antara lain radius tiga kilometer dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Mengingat sudah beberpa kali awan panas guguran dengan jarak luncur semakin jauh, maka masyarakat yang tinggal di alur Sungai Gendol dimohon meningkatkan kewaspadaannya.
“Masyarakat kami imbau tetap tenang, agar tidak terpancing isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Selandia Baru umumkan skuad Piala Dunia 2026 hasil seleksi 3 tahun. Kombinasi pemain senior dan muda siap beri kejutan.
Dua WNA mencuri Rp4,2 juta di warung Gunungkidul dengan modus tukar uang. Polisi masih memburu pelaku dan imbau warga waspada.
Lonjakan penumpang kereta saat long weekend Kenaikan Yesus Kristus capai 778 ribu tiket. Jogja jadi tujuan favorit masyarakat.
Polisi gerebek rumah di Bantul yang diduga jual miras oplosan. Lima botol disita, operasi terus digencarkan tekan peredaran ilegal.
Ilmuwan China berhasil kloning 6 kambing perah super dengan produksi susu tinggi. Terobosan ini percepat pembiakan dan dukung ketahanan pangan.