Maret, DIY Masih Berpotensi Diguyur Hujan Disertai Angin Kencang

Ilustrasi angin kencang. - JIBI
13 Maret 2019 08:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mlati memprediksikan iklim pada Maret ini di wilayah DIY masih dalam periode musim hujan dengan rata-rata hujan mencapai di atas 300 milimeter per bulan.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, Etik Setyaningrum, mengatakan hasil analisa cuaca untuk beberapa hari kedepan sebagian besar wilayah DIY masih berpotensi terjadi hujan sedang-lebat yang disertai petir dan angin kencang. "Hujan umumnya terjadi terutama di siang atau sore hari serta malam hari," kata Etik kepada Harian Jogja, Selasa (12/3/2019).

Hal ini terjadi karena secara dinamika atmosfer dan laut masih mendukung bagi pembentukan awan awan yang bisa menyebabkan hujan diwilayah Jogja.

Etik mengatakan faktor yang masih mendukung kejadian tersebut antara lain karena masih munculnya beberapa low pressure atau tekanan rendah Samudera hindia bagian selatan hingga sekitar Australia. "Dengan masih munculnya low pressure ini memberikan dampak berupa belokan angin ataupun pertemuan angin disekitar jawa sehingga menyebabkan terjadinya proses kenaikan massa udara yang berdampak pada pembentukan awan awan hujan di wilayah DIY," paparnya.

Kedua, etik menuturkan jika aktifitas Madde Julian-Oscillation (MJO) atau gelombang atmosfer yang saat ini terpantau masih berada disekitar wilayah Indonesia khususnya bagian barat. "Aktifitas MJO ini masih aktif di wilayah kita hingga tanggal 22 maret 2019," ujarnya.

Ketiga, lanjut Etik, suhu permukaan laut di sekitar jawa baik utara ataupun selatan terpantau cukup hangat sehingga memberikan supply uap air bagi pembentukan hujan diwilayah DIY.

Terkait dengan aktifitas MJO sendiri, Etik mengatakan efek MJO di Sleman hampir sama dengan wilayah DIY lainnya. "Karena MJO sifatnya global dan menyeluruh di wilayah DIY, maka untuk beberapa hari kedepan sebagian besar wilayah DIY masih berpotensi hujan sedang - lebat yang disertai petir dan angin kencang, hujan umumnya terjadi di siang atau sore hari," paparnya.

Mengingat kondisi di atas, kata Etik, maka masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai kondisi cuaca ektrem yang bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti bahaya banjir, tanah longsor, angin kencang dan petir yang masih berpeluang muncul di wilayah DIY.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan, mengatakan jika potensi ancaman cuaca ekstrem bisa menimbulkan bencana hidrometereologis.

Oleh karena itu, lanjut Makwan, BPBD Sleman tetap mengahadapinya secara proporsional. "Dengan meningkatkan kewaspadaan tetutama di wilayah beresiko banjir, tanah longsor, yang ditimbulkan akibat hujan lebat disertai petir dan angin kencang," tegasnya.

Adapun, Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana, mengatakan akibat hujan yang terus menerus dan perubahan fungsi lahan, bisa membuat kondisi lingkungan berubah. "Kelembaban tanah sudah jenuh karena kandungan airnya tinggi sehingga rawan bergerak sehingga bisa mengancam keselamatan warga," kata Biwara.

Ia mengimbau untuk masyarakat yang beberapa waktu lalu terdampak hujan deras dan angin kencang, bahkan longsor seperti di kawasan Gedangsari, Nglipar dan sekitarnya, perlu waspada karena kontur tanah yang miring tajam sangat rawan pergerakan tanah.

Tak lupa, Biwara juga mengatakan apabila hujan lebat dalam waktu yang lama, bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan longsor sebaiknya mengamankan diri di rumah saudara atau tetanga yang lebih aman dan mudah akses penyelamatan diri.