Dua Siswi SMP di Kulonprogo Batal Ikut UNBK, Alasannya Bikin Ngelus Dada

Peserta UNBK SMPN 9 Kota Jogja masih menunggu di dalam ruangan ketika belum bisa mendapatkan token dari pusat akibat server offline, Senin (23/4/2018). - Harian Jogja/Sunartono
15 Maret 2019 14:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Sebanyak dua siswi dari dua sekolah menengah pertama (SMP) di Kulonprogo mengundurkan diri atas permintaan orangtua masing-masing. Pengunduran ini dilangsungkan sebelum pelaksanaan validasi data peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada Januari lalu.

Kedua siswi tersebut sebelumnya bersekolah di wilayah Kecamatan Panjatan dan Kalibawang. Namun, karena terjadi insiden yang tidak diinginkan, keduanya memilih mengundurkan diri.

"Keduanya ada kedekatan dengan lawan jenis, terus tidak mau sekolah gara-gara itu," beber Kasi Kurikulum dan Penilaian SMP, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo, Sumarni usai jumpa pers persiapan UNBK dan UASBN di Kompleks Pemkab Kulonprogo, Kamis (14/3/2019).

Dia mengatakan segala upaya telah dilakukan pihak sekolah untuk membujuk kedua siswi tersebut untuk kembali bersekolah. Namun upaya itu gagal. Orangtua keduanya lantas membuat surat pengunduran diri yang ditujukan kepada sekolah masing-masing.

Meski telah mengundurkan diri, Sumarni memastikan kedua gadis belia itu tetap bisa mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Hal Ini mengacu pada implementasi program wajib belajar 12 tahun yang digalakkan pemerintah.

"Kami berupaya mengarahkan orang tua siswa tersebut untuk mengikutsertakan anaknya dalam PKBM, jadi mereka tidak putus sekolah," ujarnya.

Terkait UNBK tingkat SMP di Kulonprogo, Sumarni menjelaskan akan dilaksanakan serentak pada 22-25 April mendatang. Sebanyak empat mata pelajaran yakni Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA bakal diujikan.

Adapun jumlah siswa yang menjadi peserta UNBK sebanyak 5.964 anak. Mereka berasal dari 79 sekolah, yakni 36 SMP negeri, 29 SMP swasta, 6 MTS negeri dan 8 MTS swasta. Dari jumlah itu, 49 sekolah dipastikan bisa melaksanakan UNBK mandiri. Sisanya sebanyak 30 sekolah menumpang ke sekolah lain.

Untuk UNBK tahun ini, tidak ada peserta berkebutuhan khusus. Namun demikian, terdapat satu siswa di Kecamatan Girimulyo yang mengalami slow learner atau anak yang lamban belajar dan berprestasi rendah. "Hal itu tidak menjadi masalah karena hasil UNBK bukan merupakan penentu kelulusan siswa, tapi kami tetap menyesuaikan soal untuk anak tersebut," jelas Sumarni.

Sebagai antisipasi listrik padam yang mengganggu pelaksanaan ujian, Disdikpora Kulonprogo telah berkoordinasi dengan PLN Wates. PLN diminta tidak melakukan pemadaman listrik saat ujian. Selain itu, juga mewajibkan pelaksana ujian menyediakan genset untuk mengantisipasi padamnya listrik karena faktor alam.

Ia mengatakan berdasarkan hasil monitoring, saat ini seluruh sekolah yang akan digunakan untuk pelaksanaan UNBK telah menyiapkan genset. Kondisi perangkat komputer dan jaringan internetnya juga terpantau baik.

Pelaksanaan UNBK berbarengan dengan UASBN tingkat SD. Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdikpora Kulonprogo, Suharyono mengatakan, ujian tersebut dilaksanakan pada 22-24 April dengan tiga mata pelajaran yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA.

"Jumlah peserta UASBN Kulonprogo sebanyak 6.122 siswa, terdiri dari 3.227 laki-laki dan 2.895 perempuan," kata dia.

Dijelaskannya, peserta ujian ini berasal dari 362 sekolah yang terdiri dari 273 SD negeri, 60 SD swasta, 3 MI negeri dan 26 MI swasta. Peserta diberi waktu 120 menit untuk mengerjakan soal pilihan ganda dan uraian. Soal ujian itu disusun oleh pemerintah pusat, sedangkan penyelenggara ujian di tingkat DIY dan berdasarkan kisi-kisi yang ditetapkan Banlitbang Kemendikbud.