Sejarah Kecamatan Kraton Terus Digali

Peneliti Sejarah BPNB DIY, Dwi Ratna Nurhajarini (kiri) dan Kaprodi Sejarah FIB UGM, Nur Aini Setiawati saat menjadi narasumber pada Seminar Menggali Potensi Sejarah Lokal di di Dsenopati Malioboro Hotel, beberapa hari lalu. - Istimewa/Dinas Kebudayaan Jogja
14 Maret 2019 20:22 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masyarakat didorong untuk lebih mengenali dan menggali potensi sejarah di sekitarnya. Selain untuk menjaga kelestarian sejarah, upaya tersebut dilakukan untuk pengembangan potensi sejarah yang dimiliki masyarakat.

Kasi Sejarah Bidang Sejarah dan Bahasa Disbud Jogja Fitria Dyah Anggraeni mengatakan untuk mendorong agar masyarakat bisa menggali potensi sejarah di sekitarnya, Disbud Jogja menggelar Seminar Menggali Potensi Sejarah Lokal. "Seminar ini merupakan rangkaian seminar yang kami gelar di 14 kecamatan. Tujuannya menggali potensi sejarah lokal di masing-masing wilayah," katanya kepada Harian Jogja, Kamis (14/3/2019).

Seminar yang digelar di D’senopati Malioboro Hotel, Selasa (12/3/2019) tersebut menghadirkan sejumlah narasumber mulai Dwi Ratna Nurhajarini dari BPNB DIY, dan Nur Aini Setiawati Kepala Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM. Adapun peserta berasal dari masyarakat Kecamatan Kraton Jogja.

Anggi, sapaan akrab Fitria Dyah Anggraeni berharap ke depan masyarakat di wilayah bisa menemukan potensi sejarah di lingkungan sekitarnya. Setelah itu, mereka dapat mengambil manfaat dari potensi sejarah yang ditemukannya. Seperti, munculnya komunitas penggiat sejarah atau komunitas-komunitas yang sudah ada bisa menggunakan sejarah lokal sebagai referensi atau inspirasi dalam mengembangkan karyanya.

Menurut dia, penyampaian sejarah juga perlu dikemas ala anak muda. Itu dilakukan untuk memotivasi generasi muda belajar sejarah. Salah satu metodenya menggunakan permainan dan fun. Dengan metode fun tersebut, Meraka akan mencari jejak sejarah di sekitarnya. "Jadi sejarah bukan lagi hanya dipelajari dengan seminar tetapi nantinya akan diajarkan melalui seni, tulisan, napak tilas dan lainnya agar lebih sesuai dengan generasi milenial," kata Anggi.

Kepala Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM, Nur Aini Setiawati dalam kesempatan itu memaparkan terkait dengan sejarah lokal di Kecamatan Keraton. Perkembangan Kecamatan Kraton, katanya, berawal dari pembangunan kraton di hutan Beringan yang menggunakan sumbu filosofis keraton (sumbu imajiner) meliputi pantai Selatan, Panggung Krapyak, Kraton Jogja, Tugu Golong Gilig dan Gunung Merapi.

"Dari sumbu filosofis ini Kecamatan Kraton dibangun dan memiliki tiga kelurahan. Mulai Kadipaten, Penambahan dan Patehan. Ketiganya juga memiliki sejarah sendiri-sendiri yang masih bisa digali," katanya.

HB I

Peneliti Sejarah dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dwi Ratna Nurhajarini memaparkan soal warisan budaya Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I. Di antaranya petilasan Ambarketawang di wilayah Gamping, Tamansari dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Selain itu, ada warisan tak benda dari HB I yang dibagi atas karya seni tari Klasik Kasultanan Jogja. Beberapa tari klasik gaya Yogyakarta diciptakan oleh Sultan HB I antara lain Bedhaya Semang, Beksan Lawung Ageng, Bedhaya Sumreg, Wayang Wong Harjunawiwaha dan Beksan Sekar Medura.

"Pemikiran filosofis Sultan HB I juga menjadi warisan budaya tak benda. Ini menjadi salah satu roh keistimewaan dan nilai dasar budaya DIY. Seperti Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Gusti, Sawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh, Catur Gatra Tunggal dan Hamengku-Hamangku-Hamengkoni," katanya.