Siklon Savannah Bikin Pertanian & Perikanan Bantul Tekor Rp1,45 Miliar

Evakuasi korban longsor di Kecamatan Imogiri, Bantul, akibat Siklon Savannah, Selasa (19/3/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
23 Maret 2019 14:07 WIB Ujang Hasanudin & Lugas Subarkah Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Kerugian dari sektor pertanian dan perikanan akibat Siklon Tropis Savannah di Bantul mencapai Rp1,45 miliar. Kerugian tersebut terdiri dari lahan bawang seluas sekitar 62 hektare yang terendam dan sejumlah kolam ikan meluap.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul, Pulung Haryadi, menyatakan dari hasil pendataan ada 62 hektare lahan bawang merah di Bantul yang gagal panen setelah terendam banjir. Dari jumlah tersebut sebagian besar berada di Kecamatan Kretek dan Sanden.

"Nominal kerugiannya sekitar Rp15 juta per hektare. Tinggal dikalikan saja dengan luas lahan yang terendam yang mencapai 62 hektare," kata Pulung saat dihubungi Jumat (22/3/2019). Jika Rp15 juta dikalikan 62 hektare maka sekitar Rp930 juta.

Pulung mengatakan tanaman bawang merah terendam pada Minggu (17/3/2019) sore hingga Senin (18/3/2019) dini hari. Beberapa area bahkan yang terendam sampai Senin pagi. Sebenarnya, kata dia, ada ratusan lahan yang terendam akibat luapan sungai yang tersebar di beberapa kecamatan. Namun sebagian besar yang terendam adalah tanaman padi yang masih bisa dipanen ketika air surut. Untuk tanaman bawang merah yang terendam dipastikan tidak bisa dipanen, "Kalau tanaman bawang terendam langsung busuk, kecuali yang sudah siap panen masih bisa diselamatkan. Yang terendam kemarin rata-rata masih berumur muda," ujar Pulung.

Pulung mengaku jajarannya tidak bisa berbuat banyak terkait banyaknya petani bawang yang gagal panen karena tidak ada anggaran untuk ganti rugi. Ia mengklaim sebagian petani sudah mengetahui risiko bercocok tanam komoditas pertanian saat bukan musimnya.

Menurut dia, musim penghujan seperti sekarang ini hanya cocok untuk menanam padi. Namun bagi sejumlah petani, menanam bawang saat musim hujan terkadang menguntungkan karena harganya tinggi. Hanya, kalau sudah gagal panen, kata Pulung, kerugiannya juga cukup besar.

Pulung menyatakan selalu menyosialisasikan kepada para petani untuk menanam sesuai musim. Jajarannya juga mendorong kepada para petani agar memanfaatkan asuransi petani

Anggota DPRD Bantul, Setiya, mengatakan perlunya petani mengikuti asuransi pertanian untuk mengurangi kerugian jika terjadi bencana yang menyebabkan gagal panen. "Daripada setiap kali ada dampak bencana, pemerintah daerah harus mengeluarkan dana besar untuk recovery, akan lebih ekonomis bila pemerintah membayar premi asuransi," ujar Setiya.

Tertutup Lumpur

Selain lahan tanaman bawang merah yang terendam, sejumlah area lahan padi juga rusak lantaran tertutup lumpur seperti yang terjadi di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. Desa ini menjadi salah satu desa terdampak cukup parah dari banjir yang melanda Minggu. Sawah seluas 40 hektare terendam banjir, beberapa di antaranya dipastikan gagal panen.

Ketua Gapoktan Sidomakmur, Desa Seloharjo, Rismanta, mengatakan ada empat kelompok tani (poktan) yang sawahnya terendam banjir, yakni Asri, Mekarsari, Karangasem, dan Tridadi. “Untuk Poktan Asri dan Mekarsari sawah yang terendam seluas 20 hektare,” kata Rismanta kepada Harian Jogja, Jumat.  Rismanta mengatakan lumpur menutupi sawah milik Poktan Karangasem dan Tridadi dengan luas mencapai 2.500 meter persegi.

Selain itu, cekdam yang memberi pasokan air irigasi 4,5 hektare sawah milik Poktan Tridadi juga penuh lumpur. “Talutnya ambrol dan belum kami perbaiki,” katanya.

Gapoktan Sidomakmur memiliki cakupan Desa Seloharjo, yang terdiri dari 17 poktan dengan lahan produktif seluas 151 hektare. Menurut Rismanta, baru tahun ini area persawahan di desanya tergenang banjir dengan dampak yang cukup parah.