Yayasan Griya Jati Rasa Sudah 4 Tahun Melayani Bangsa. Ini Kiprahnya

Ketua Koperasi Griya Jati dan Ketua PW LPPNU DIY Beny Susanto (kanan) memandu penyusunan program koperasi 2019 di Joglo Griya Jati Rasa pada 19 Maret 2019. - Harian Jogja/Istimewa
29 Maret 2019 14:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pada 28 Maret 2019, tepat empat tahun Yayasan Griya Jati Rasa melayani Jogja dan Indonesia. Yayasan ini didirikan oleh Farsijana Adeney-Risakotta, seorang dosen Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana sekaligus aktivis akar rumput.

Yayasan Griya Jati Rasa adalah Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Kreatif Bangsa untuk Keadilan dan Perdamaian (www.griyajatirasa.com). Visi Yayasan Griya Jati Rasa adalah mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dan berdaulat secara ekonomi, sosial dan budaya, menghargai keragaman alam semesta dan sesama.

Misinya adalah mendorong desa-desa untuk mandiri secara ekonomi, melestarikan lingkungan, menghargai dan menguatkan budaya lokal, membangun pendidikan yang modern dan unggul, membangun kerukunan suku, dan antar agama yang berbeda serta membangun jejaring akar rumput.

"Derap pelayanan publik yayasan yang sudah dilakukan adalah memberdayakan pengorganisasian organisasi akar rumput yaitu Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dengan kantor pusatnya di Jogja. Anggota utama adalah warga Jogja, tetapi keanggotaannya juga ada di Aceh, Poso dan Papua," kata Farsijana Adeney, dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Jumat (29/3/2019).

Dalam perjalanannya Yayasan Griya Jati Rasa telah mendampingi Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa untuk menguatkan masyarakat di Jogja menghadapi perubahan sosial terutama pembangunan bandara New Yogyakarta International Airprot (NYIA). Yayasan ini bekerja sama dengan Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat (PSPTM), Fakultas Bisnis di Universitas Kristen Duta Wacana sedang menyelenggarakan program Samigaluh Tanggap Globalisasi, Tanggungjawab bersama umat beragama.

Farsijana menjelaskan program ini bertujuan untuk menghadirkan kaum akademisi bekerja bersama warga masyarakat melalui keanggotaannya dalam Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa untuk menguatkan organisasi kelembagaan berbasis kelompok usaha bersama di desa-desa yang bisa dikembangkan menjadi Koperasi sekunder dengan memusatkan pada pengembangan potensi desa.

Dalam RAT ke-2 dari Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa yang diselenggarakan Maret lalu sebagai kerjasama dengan PSPTM, di UKDW, telah menghasilkan kepengurusan baru. Segera setelah RAT ke-2, Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa melakukan rapat kerja untuk membuat program tiga tahun
ke depan gerakan perkoperasian yang berdampak kepada masyarakat di Jogja dan di Indonesia.

Diharapkan di bawah kepemimpinan ustad Beny Susanto dalam tiga tahun ke depan bisa menguatkan ekonomi warga mengatasi kemiskinan di Jogja dan mendorong kesadaran generasi milineal untuk terlibat membangun desa. "Cita-cita ini segera tercapai karena rekruitmen kepada generasi milenial bisa dilakukan melalui keterlibatan mahasiswa," kata Farsijana. 

Farsijana adalah dosen program Social Entrepreneurship dari Magister Manajemen, Universitas Kristen Duta Wacana, sekaligus Investigator Program Samigaluh Tanggap Globalisasi dari PSPTM, Fakultas Bisnis UKDW. Dia memperkenalkan gerakan koperasi kepada mahasiswa-mahasiswanya.

"Mereka memutuskan menjadi anggota Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa untuk bisa memulai program penelitian kebijakan paska gempa di Nusa Tenggara Barat untuk mendorong percepatan pembentukan Pokmas [Kelompok Masyarakat] supaya pembangunan rumah hunian tetap bisa dilakukan sebelum 12 April 201," katanya. 

Salah seorang mahasiswanya adalah putra asli Lombok yang membawakan persoalan penanggulangan bencana untuk di bahas dalam mata kuliah Manajemen Stratejik Pendanaan yang diajarkan oleh Farsijana Adeney-Risakotta. Melalui diskusi kelas akhirnya bisa dihasilkan suatu proposal kegiatan riset.

Keempat mahasiswa MM, UKDW yang adalah anggota Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa kemudian ke Lombok dan dengan bimbingan Farsijana Adeney-Risakotta. Mereka bisa menyerahkan rekomendasi kepada Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat.

Salah satu butir dari rekomendasi tersebut adalah penyederhanaan juknis (petunjuk teknis) terutama untuk memungkinkan adanya kerjasama antara bank BRI dengan bank lain yang ada di desa terdampak bencana. Harapannya, warga bisa dipermudah dalam pengurusan pembukaan/pendebetan dan pencairan rekening untuk memulai program pembangunan rumah hunian yang dilakukan dalam kelompok kerja (Pokmas).

"Kehadiran mahasiswa-mahasiswa MM UKDW diharapkan bisa mendorong kegiatan tindak lanjut kepada warga terdampak dari gempa di Lombok," katanya.

Dalam kondisi bangsa dengan tantangan alam dan kehidupan keragaman umat beragama untuk saling menolong dan membangun potensi daerah, Yayasan Griya Jati Rasa merayakan hari ulang tahun ke-4 dengan ucapan syukur dan komitmen untuk terus mengerjakan panggilan bersama menjaga kesatuan bangsa dan negara melalui program kemanusiaan, keadilan ekonomi dan perdamaian.