Generasi Milenial Perlu Meneladani Kesederhanaan M. Natsir

Diskusi Mosi Integral M. Natsir, Kembalinya Indonesia Menjadi NKRI, Rabu (3/4/2019) malam. - Ist/DDII DIY.
04 April 2019 13:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mohammad Natsir menjadi salah satu tokoh kemerdekaan dan politikus yang masih relevan untuk diteladani generasi era milenial saat ini. Natsir saat menjadi menteri menunjukkan kesederahanaannya, bahkan cara berpakaian tidak seperti pejabat. Tokoh Masyumi ini dibahas dalam diskusi Mosi Integral M. Natsir, Kembalinya Indonesia Menjadi NKRI, di Gedung DPD RI Perwakilan DIY, Rabu (3/4/2019) malam.

Dosen UIN Sunan Kalijaga Khamim Zarkasih Putro dalam diskusi itu mengakui kesederhanaan M. Natsir. Dalam berbagai referensi, M. Natsir saat menjabat sebagai menteri bukan saja piawai dalam berfikir menyelesaikan persoalan negara, namun juga sangat sederhana dalam kesehariannya. Bahkan, ia konon menolak ketika akan dihadiahi mobil dan tidak memiliki baju yang bagus.

“Sebagai pemimpin partai, gagasan mosi integral yang digaungkan beliau saat itu adalah bukti bahwa selain agamis tetapi juga nasionalis. Karena terbukti mampu mengembalikan RIS [Republik Indonesia Serikat] menjadi NKRI,” katanya dalam diskusi tersebut.

Ia menambahkan, tak dipungkiri tergolong susah untuk menemukan politisi seperti M. Natsir saat ini. Oleh karena itu, sosok M. Natsir sangat layak dan tetap relevan untuk diteladani era saat ini, terutama kalangan mudal milenial. “Beberapa pemikirannya sangat otentik,” katanya.

Wakil Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) DIY Eri Masruri mengatakan, hasil gagasan M. Natsir yang menyatukan RIS menjadi NKRI adalah bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi NKRI. “Sehingga tidak benar jika umat Islam tidak setuju dengan NKRI, karena sejak awal dibangun NKRI ini juga melibatkan tokoh-tokoh Islam seperti M. Natsir. Di mana M. Natsir saat itu justru mengambil peran penting,” katanya.

Eri menambahkan, dalam diskusi itu menghadirkan sebagian besar kaum muda milenial di Jogja, harapannya mereka dapat meneladani sosok M. Natsir. Terutama soal kesederhanaannya yang sangat jarang bisa ditemukan pada politikus era saat ini.

“Para pendiri bangsa seperti M. Natsir sudah mencontohkan bagaimana Islam menjadi penyangga NKRI, bukan sebaliknya, harapannya anak muda milenial saat ini terus membaca sejarah seperti M. Natsir dan meneladaninya,” ujarnya.

Pengurus Riset dan Literasi DDII DIY Dalton Fiisabilillah mengatakan, dalam berbagai referensi, M. Natsir sebagai pemimpin Partai Masyumi, fraksi terbesar di Parlemen saat itu mampu mengambil peran di tengah karut-marut situasi dengan mengajukan gagasan berupa mosi integral. Langkah itu untuk penyelamatan negara dan diterima secara bulat oleh Parlemen yang saat itu Indonesia berbentuk RIS. Ia sepakat jika kaum muda milenial diajak untuk meneladani tokoh tersebut.

“Mosi tersebut dicanangkan pada tanggal 3 April 1950, berisi paling tidak tiga poin. Pertama, semua negara bagian mendirikan NKRI melalui prosedur parlementer. Kedua, tidak ada satu negara bagian menelan negara bagian lainnya. Ketiga, masing-masing negara bagian merupakan bagian integral dari NKRI yang akan dibentuk. Rekomendasi tersebut didasari keinginan beliau agar pembentukan NKRI harus tanpa menimbulkan konflik antarnegara bagian dan golongan dalam masyarakat,” katanya.