Diberi Popok, Warna Anggrek Lebih Terang

Supadi menunjukkan pupuk dari popok di kebunnya Dusun Donoasih, Donokerto, Turi, Sleman. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
06 April 2019 12:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Selain plastik, popok menjadi sampah yang paling banyak ditemukan di Sleman, terutama di aliran sungai. Namun di tangan Supadi, 50, warga Dusun Donoasih, Donokerto, Turi, Sleman, sampah popok bisa diolah. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Seusai berkebun, Supadi, 40, kaget bukan kepalang saat melihat kolam ikan nilanya. Puluhan ikannya berenang lemas sambil berputar-putar di titik yang sama. Supadi otomatis memeriksa pralon saluran air miliknya yang terhubung langsung dengan aliran sungai. Ternyata gumpalan sampah popok penuh kotoran bayi menyumbat lubang pralon saluran air kolamnya.

Supadi bergegas mengambil kantong plastik hitam dan membuang sumbatan sampah popok itu. Keesokan harinya, saluran kolamnya kembali tersumbat oleh sampah popok. Supadi yang jengkel kemudian bergegas berjalan menyusuri aliran sungai dan memunguti seluruh sampah popok yang ada di pinggir bantaran sungai. Dia tak peduli puluhan pasang mata menatapnya dengan tatapan ganjil. Hari itu, Supadi pulang memikul satu kantong plastik besar penuh dengan sampah popok.

"Menurut saya, ikan saya jadi ling-lung karena zat kimia dalam popok itu. Apalagi hanya di sungai saja sampah popok itu menumpuk, di kebun belakang rumah saya juga ada," kata Supadi ketika mengenang pengalamannya.

Supadi yakin senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang terkandung dalam popok akan berdampak besar pada pencemaran lingkungan dan ekosistem ikan milik warga. Senyawa itu biasanya akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Senyawa ini dapat menyebabkan perubahan hormon pada ikan dan menyebabkan ikan mandul.

Supadi kemudian meletakkan satu kantong plastik besar yang penuh sesak dengan sampah popok. Supadi sempat termenung dan berfikir keras bagaimana cara mengatasi limbah sampah popok yang mati satu tumbuh seribu dan mencemari lingkungannya.

Tiba-tiba terlintas di benaknya pengalamannya mengikuti seminar pembuatan pupuk dari urine kambing. Pupuk itu berhasil menyuburkan tanaman miliknya.

Tanpa basa-basi Supadi langsung merendam sampah popok yang didapatkannya dalam ember berisi air. Kemudian Supadi beranjak mengambil satu botol kuning bertuliskan EM4 Indonesia. EM4 Indonesia merupakan jenis pupuk cair peternakan yang berfungsi mengurai mikroorganisme agar dapat bekerja lebih baik di media tanam. Menurut Supadi, EM4 tidak bisa menyuburkan tanaman apabila tidak dicampur dengan bahan pokok pupuk.

"Saya pernah mengikuti seminar pembuatan pupuk dari urine kambing. Itu juga pakai EM4. Nah, saya rasa urine di dalam sampah popok itu juga bisa diurai untuk menyuburkan tanaman," kata pria yang memiliki sapaan akrab Padi ini.

Supadi mengatakan proses penguraian mikroorganisme urine di sampah popok oleh EM4 hanya memakan waktu lima menit. Setelah itu, sampah popok harus ditiriskan dan disobek plastik pembungkusnya. Bagian dalam popok yang berupa kapas berisi gel kemudian diletakkan di tanah sebagai media tanam. Urutan peletakannya dalam pot adalah tanah sebagai dasaran, pupuk dari sampah popok dan ditimbun lagi dengan tanah. Akar tumbuhan akan menyerap pupuk alami buatan dari bagian kapas popok.

"Pupuk sampah popok ini juga bisa dijadikan media tanam hidroponik dan anggrek. Saya amati perbedaannya, kalau pakai pupuk dari sampah popok ini tanaman lebih hijau, kokoh dan subur. Kalau anggrek, bunganya bisa tumbuh lebih cepat dan warnanya lebih terang," kata Supadi.

Supadi jujur dirinya tak memiliki basis ilmu apapun soal inovasinya ini. Dia hanya berfikir sederhana, jika urine kambing bisa menyuburkan tanaman, seharusnya urine manusia yang mengendap di popok juga bisa dimanfaatkan seperti itu.

Sejak menguji coba pupuk sampah popok pada tanamannya sendiri, Supadi mendaftarkan temuannya itu untuk mengikuti lomba lingkungan bersih dan sehat oleh Pemda DIY mewakili Desa Donokerto, Turi, Sleman. Saat ini, inovasi produknya tengah dikaji manfaatnya secara lebih mendalam oleh Dinas Kesehatan DIY. Sembari menunggu, Supadi aktif berbagi ilmu mengolah pupuk sampah popok kepada ibu-ibu PKK di Desa Donokerto.

"Saya tidak ingin hanya saya saja yang bisa mengolah sampah popok ini menjadi pupuk. Saya ingin masyarakat mandiri membuatnya dan bersama-sama kurangi pencemaran lingkungan karena popok, karena di Sleman sendiri cukup banyak sampah popok bayinya," kata Supadi.

 

//Dikembangkan BumDes

Berdasarkan riset Bank Dunia pada 2017, popok sekali pakai menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di laut, yakni 21%. Di peringkat pertama ada sampah organik yang besaran angkanya mencapai 44%. Selain itu, ada pula tas plastik (16%), sampah lain (9%), pembungkus plastik (5%), beling kaca dan metal (4%), serta botol plastik (1%).

Di DIY, sampah-sampah tersebut juga masih banyak ditemukan. Buktinya beberapa hari lalu sempat terjadi penumpukan sampah di TPST Piyungan. Padahal sejak ditetapkan oleh gubernur pada 27 Februari 2013, Peraturan Daerah No.3/2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenisnya terus gencar disosialisasikan.

Kepala Desa Donokerto, Waluyo Jati, mengatakan adanya inovasi warga berupa teknologi atau alat pengurai sampah memang sangat dibutuhkan di saat DIY sedang darurat pengolahan sampah. Oleh karena itu, inovasi yang dilakukan oleh Supadi terus dikembangkan oleh Pemerintah Desa Donokerto.

"Rencananya kami masukkan ke BumDes Donolestari [BumDes Desa Donokerto] dan kami jadikan unit usaha BumDes supaya nantinya bisa dianggarkan pengembangannya melalui APBDes, harapannya ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten [Sleman], Pemerintah Daerah [DIY] dan [Pemerintah] Pusat supaya produk ini dapat efektif mengurangi pencemaran lingkungan," kata Waluyo.

Waluyo mengatakan nantinya pupuk dari sampah popok ini diberi nama Inovasi Donoasih Diapers Buat Media Tanaman (Si Idaman). Menurut dia, inovasi ini berawal dari sampah diapers sering dibuang sembarangan dan sifatnya yang tidak mudah hancur menyebabkan pencemaran lingkungan. "Diapers yang bersifat menyerap air dapat bermanfaat sebagai sumber air bagi tanaman, dimanfaatkan warga Donoasih sebagai media tanaman hias," kata Waluyo.