Desa Terbah, Kecamatan Patuk, Kembangkan Wisata Berbasis Kuliner

Kades terbah, Kecamatan Patuk, Giyanto. - Harian Jogja/David Kurniawan
08 April 2019 15:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Desa Terbah, Kecamatan Patuk, berencana mengembangkan sektor pariwisata berbasis potensi kuliner. Untuk mewujudkan program ini sudah menyiakan anggaran Rp200 juta dan lahan seluas satu hektare sebagai lokasi destinasi wisata.

Kepala Desa Terbah, Giyanto, mengatakan perencanaan pengembangan sektor pariwisata sudah disusun karena sudah menjalin kerja sama dengan salah perguruan tinggi di DIY. Rencananya, destinasi yang dibuat berbasis wisata alam dengan konsep gardu pandang serta tempat kuliner yang akan dibangun di Dusun Semilir. “Konsepnya sudah ada dan desa sudah menyiapkan tanah kas untuk lokasi pembangunan,” kata Giyanto kepada Harian Jogja, Senin (8/4/2019).

Menurut Giyanto, untuk membangun destinasi wisata gardu pandang dan tempat kuliner dibutuhkan anggaran lebih dari Rp1 miliar. Namun karena anggaran yang dimiliki terbatas, pembangunan dilaksanakan secara bertahap. “Tahun ini kami anggarkan Rp200 juta dan tahun berikutnya ada lagi alokasi untuk melanjutkan pembangunan. Untuk memantangan konsep, kami juga menjalin kerja sama dengan Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogja,” tuturnya.

Dikatakan Giyanto, pengembangan destinasi wisata yang direncanakan sebagai upaya memaksimalkan potensi desa. Ia tidak menampik di sekitar lokasi memiliki pemandangan yang indah sehingga didirikan gardu pandang dan taman kuliner. Menurut dia, konsep ini juga dapat memberikan dampak terhadap roda perekonomian masyarakat karena memberikan peluang usaha. “Tentunya kami ingin menambah pendapatan asli desa. Tapi yang paling penting, upaya pengembangan wisata dapat berperan dalam rangka menyejahterakan warga,” katanya.

Sebelumnya, Penggerak Swadaya Masyarakat Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY, Murti Maharini, mengatakan Desa Terbah menjadi salah satu desa binaan Pemda DIY untuk program inisiasi desa prima. Pasalnya, di desa ini masuk kategori desa miskin dengan tingkat kemiskinan di atas 10%.

Dia menjelaskan program inisiasi desa prima bertujuan memberdayakan masyarakat, khususnya dari kalangan perempuan agar bisa meningkatkan kesejahteraan sehingga upaya pengentasan kemiskinan dapat diwujudkan. “Di desa ini dibentuk kelompok usaha bersama dan mendapat pendampingan selama tiga tahun. Selain itu, kelompok juga mendapatkan stimulan Rp37 juta untuk pengembangan usaha,” katanya.