Polisi Usut Kerusuhan Massa Kampanye di Kulonprogo, Bawaslu Minta Penyelenggara Bertangung Jawab

Rumah milik Sukarjo, caleg dari PPP di Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, rusak dilempari baru oleh massa kampanye, Minggu (7/4/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
08 April 2019 16:47 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kerusuhan terjadi di beberapa tempat di Kulonprogo seusai kampanye yang digelar Tim Kampanye Daerah Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin di Alun-Alun Wates, Kulonprogo, Minggu (7/4/2019). Sejumlah rumah dirusak. Dua orang, yakni petugas pengawas pemilu dan angggota TNI jadi korban penganiayaan. Polisi kini mengusut kasus tersebut.

Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution mengatakan polisi sudah menerima kaporan perusakan dan penganiayaan. “Polres menerima laporan kemarin sore. Kami menindaklanjuti dua laporan dan olah TKP. Kami akan bekerja sama mengungkap pelaku penganiayaan dan perusakan,” kata dia, Senin (8/4/2019).

Menurut dia, setelah kampanye di Alun-Alun Wates rampung, kepolisian fokus mengamankan arus lalu lintas yang padat. Ia menduga, ada salah paham antara massa simpatisan kampanye terbuka di Alun-Alun Wates dengan warga di Jalan Wates, sebelah barat Jembatan Bantar, Dusun Malangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo.

Kerugian material belum dihitung. Namun, polisi sudah mengidentifikasi kerusakan-kerusakan akibat kerusuhan tersebut. “Kaca mobil, kaca rumah, pecah. Ada juga motor yang rusak,” tutur Anggara.

Sejauh ini, polisi baru menerima laporan dari Serja Setio, anggota TNI yang dianiaya, dan Sukarjo, caleg PPP yang rumahnya dirusak. Sementara, petugas Panitia Pengawas Pemilu Desa (Panwasdes) Sentolo, Janarta, tidak melapor ke polisi karena berencana menjadikannya sebagai temuan Bawaslu Kulonprogo.

Kronologi

Janarta menjadi korban kerusuhan yang di Dusun Malangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Minggu (7/4). Kepalanya bocor dan harus disembuhkan dengan lima jahitan, punggungnya memar.

“Ada masa yang lempar batu ke rumah warga, ada juga yang mau mukul entah ke siapa pakai kayu, saya tahan, coba lerai, saya malah jadi sasaran,” ujar dia, Senin (8/4).

Saat kericuhan sekitar pukul 16.30 WIB ia sedang bertugas di wilayahnya di Desa Sentolo. “Jalanan padat, setelah kampanye di Alun-Alun Wates [kampanye yang diadakan Tim Kampanye Daerah Joko Widodo-Ma’ruf Amin], massa hampir semuanya pakai atribut merah hitam pulang menuju Jogja,” ujar Janarta.

Ia mengaku sudah menunjukan kartu identitas pengawas pemilu saat massa menyerangnya. Namun tetap saja masa menghajarnya hingga kepala belakangnya bocor. Ia langsung menghubungi kawannya, dan berangkat ke Rumah Sakit Nyi Ageng Serang sendirian.

Kini kondisinya sudah berangsur membaik.  Menurut dia, amukan masa saat itu tiba-tiba mengarah ke rumah milik Sukarjo, seorang caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Lemparan batu tersebut membuat tiga rumah di Dusun Malangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo rusak.

Selain itu, sebuah mobil dan empat sepeda motor pun kena amuk masa. Kendaraan tersebut kini diamankan di Polsek Sentolo.

Sementara, salah seorang anggota TNI, Serka Setio Budi Haryanto yang juga bermaksud melerai pun menjadi korban. Baik Janarta dan Serka Setio langsung dibawa ke Rumah Sakit Nyi Ageng Serang.

Serka Setio mengalami luka di bagian kepala dan dijahit sebanyak tujuh jahitan. Saat itu, kerumunan massa mencoba mengejar salah seorang warga dan menganiayanya.

Lalu, saat Setio coba melerai, tiba-tiba ia pun malah menjadi sasaran. “Beruntung istri saya datang, sedang hamil tua, menghadang masa, kemudian massa menghindar,” ujar Setio.

Sikap Bawaslu

Anggota Bawaslu RI, Rahmat Bagja, mengatakan lembaganya akan mengumpulkan bukti-bukti penganiayaan yang yang dialami anggota Panwasdes Sentolo untuk kemudian dianalisis di Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentragakumdu) Kulonprogo. Menurut dia, kasus tersebut mengarah pada pelanggaran pidana pemilu.

Dia mengimbau penyelenggara kampanye terbuka bertanggung jawab pada tiap-tiap elemen yang hadir agar tak ada lagi kerusuhan.