Bermaksud Melerai, Pengawas Pemilu & Anggota TNI Jadi Korban Kerusuhan Massa Kampanye di Kulonprogo

Rumah milik Sukarjo, caleg dari PPP di Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, rusak dilempari baru oleh massa kampanye, Minggu (7/4/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
08 April 2019 16:07 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Janarta, seorang petugas Panitia Pengawas Pemilu Desa (Panwasdes) Sentolo menjadi korban kerusuhan massa kampanye beratribut merah hitam di Dusun Malangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Minggu (7/4). Kepalanya bocor dan harus disembuhkan dengan lima jahitan, punggungnya memar.

“Ada masa yang lempar batu ke rumah warga, ada juga yang mau mukul entah ke siapa pakai kayu, saya tahan, coba lerai, saya malah jadi sasaran,” ujar dia, Senin (8/4).

Saat kericuhan sekitar pukul 16.30 WIB ia sedang bertugas di wilayahnya di Desa Sentolo. “Jalanan padat, setelah kampanye di Alun-Alun Wates [kampanye yang diadakan Tim Kampanye Daerah Joko Widodo-Ma’ruf Amin], massa hampir semuanya pakai atribut merah hitam pulang menuju Jogja,” ujar Janarta.

Ia mengaku sudah menunjukan kartu identitas pengawas pemilu saat massa menyerangnya. Namun tetap saja masa menghajarnya hingga kepala belakangnya bocor. Ia langsung menghubungi kawannya, dan berangkat ke Rumah Sakit Nyi Ageng Serang sendirian.

Kini kondisinya sudah berangsur membaik.  Menurut dia, amukan masa saat itu tiba-tiba mengarah ke rumah milik Sukarjo, seorang caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Lemparan batu tersebut membuat tiga rumah di Dusun Malangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo rusak.

Selain itu, sebuah mobil dan empat sepeda motor pun kena amuk masa. Kendaraan tersebut kini diamankan di Polsek Sentolo.

Tidak hanya Janarta yang mengalami luka akibat kena amuk masa. Salah seorang anggota TNI, Serka Setio Budi Haryanto, yang juga bermaksud melerai amuk massa pun menjadi korban. Baik Janarta dan Serka Setio langsung dibawa ke Rumah Sakit Nyi Ageng Serang.

Serka Setio mengalami luka di bagian kepala dan dijahit sebanyak tujuh jahitan. Saat itu, kerumunan massa mencoba mengejar salah seorang warga dan menganiayanya.

Lalu, saat Setio coba melerai, tiba-tiba ia pun malah menjadi sasaran. “Beruntung istri saya datang, sedang hamil tua, menghadang masa, kemudian massa menghindar,” ujar Setio.