Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Seorang pengendara motor sedang melintas di area kompleks Bangsal Sewokoprojo, di Kota Wonosari. Selain direvitalisasi, Dinas Kebudayaan juga berencana menjadikan bagunan ini sebagai museum pemerintahan. Kamis (11/4/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul memiliki rencana jangka panjang berkaitan dengan Bangsal Sewokoprojo. Selain bakal direvitalisasi, bekas kantor pemerintahan ini bakal diubah menjadi museum pemerintahan.
Kepala Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya Disbud Gunungkidul, Agus Mantara, mengatakan Bangsal Sewokoprojo merupakan salah satu simbol budaya di Gunungkidul. Pasalnya, keberadaan bangunan ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kabupaten terluas di DIY ini. Kompleks ini dulu pernah menjadi pusat pemerintahan sehingga Disbud mengusulkan agar kompleks ini menjadi warisan cagar budaya. “Tak hanya itu, kami juga ingin menjadikan Bangsal Sewokoprojo sebagai museum kantor pemerintahan di Gunungkidul,” kata Mantara kepada wartawan, Kamis (11/4/2019).
Menurut dia, untuk mengubah kompleks Bangsal Sewokoprojo menjadi museum membutuhkan proses yang panjang. Selain kajian teknis di dalam perencanaan, Disbud berencana melakukan studi berkaitan dengan pembangunan museum. “Sudah kami rencanakan dan saat studi akan didampingi tim ahli,” katanya.
Rencananya komplek museum akan diisi berbagai koleksi berkaitan dengan perkembangan pemerintahan di Gunungkidul mulai bupati pertama hingga yang menjabat saat ini. Selain itu, koleksi juga menyangkut tentang berbagai penghargaan yang diterima maupun arsip-arsip pemerintahan yang pernah dihasilkan. “Semua koleksi berkaitan dengan pemerintahan akan dikumpulkan menjadi satu sehingga memudahkan masyarakat untuk melihat perkembangan Gunungkidul dari masa ke masa,” kata mantan Sekretaris Camat Nglipar ini.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Disbud Gunungkidul, Agus Kamtono. Menurut dia Disbud menyiapkan perencanaan terkait dengan keberadaan Bangsal Sewokoprojo untuk menjadi situs warisan cagar budaya. Namun demikian, untuk bisa masuk sebagai situs warisan cagar budaya kompleks ini membutuhkan banyak perbaikan karena bentuk bangunan tidak sesuai dengan bentuk awal saat dibangun. “Harus dikembalikan seperti bentuk awal dan untuk revitalisasi sudah menyiapkan anggaran Rp1 miliar. Nantinya kantor-kantor pemerintahan di seputaran kompleks [BPBD, Satpol PP dan Kominfo] akan dipindah,” kata Agus.
Dia menambahkan, untuk pembangunan ditargetkan selesai tahun ini sehingga proses pengajuan sebagai warisan cagar budaya bisa segera disetujui. “Mudah-mudahan semua berjalan dengan lancar dan kompleks Bangsal Sewokoprojo bisa ditetapkan sebagai warisan cagar budaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 29 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
Pemilih lintas domisili diminta diatur dalam revisi UU Pemilu, termasuk soal representasi politik bagi warga yang mencoblos jauh dari daerah asal.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengingatkan 87 calon lurah untuk menghindari politik uang menjelang Pilur 2026.