Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Panitia menyiapkan nasi untuk buka bersama di Masjid Jogokariyan, Selasa (7/5/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA--Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan di Masjid Jogokaryan kali ini kembali semarak dengan berbagai kegiatan yang selalu menarik perhatian masyarakat. Salah satunya yang menjadi tradisi adalah penyediaan takjil yang jumlahnya mencapai ribuan porsi.
Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Saiful Batsa mengatakan untuk buka puasa bersama, panitia menyiapkan 2.500 porsi makanan yang diwadahi di piring. Penempatan makanan dalam piring dipilih agar masyarakat menikmati hidangan buka puasa bersama-sama di masjid dan bukan untuk dibawa pulang.
“Peserta buka puasa bersama selalu membeludak. Di hari pertama [Senin, 6/4/2019], porsi yang kami siapkan kurang. Kami antisipasi dengan roti basah dan air mineral," katanya kepada Harian Jogja, Selasa (7/5/2019).
Tak hanya ribuan porsi takjil, Ramadan di Masjid Jogokariyan juga diramaikan dengan pasar sore di sepanjang jalan di Kampung Jogokaryan. Saiful mengatakan ada sekitar 250 stan yang berjualan di pasar sore itu. “Pedagang dari warga Jogokariyan, masyarakat luar Jogokariyan, dan mahasiswa. Bahkan ada beberapa brand terkenal,” ucap dia.
Secara keseluruhan, kata dia, kegiatan ramadan di Masjid Jogokariyan dibagi jadi tiga bagian, yakni pra-Ramadan, Ramadan, dan pasca-Ramadan. Pra-Ramadan, Masjid Jogokaryan menggelar pengajian akbar dengan mengundang komunitas hijrah dari artis di Jakarta.
Sedangkan untuk sesi Ramadan, dibuka dengan tarawih akbar. Selama empat hari pertama, tarawih dan salat Subuh berjamaah diimami oleh Syekh Yusuf dari Palestina. “Sedangkan untuk pasca-Ramadan, kami akan menggelar Syawalan,” ucap dia.
Salah satu pedagang yang turut ambil bagian dalam pasar sore di sekitar Masjid Jogokariyan, Hesti Aprilia, mengaku baru kali pertama mengikuti acara tersebut. Warga Wijilan, Jogja, itu mengaku penasaran lantaran tiap tahun, event Ramadan yang digelar Masjid Jogokariyan selalu ramai dikunjungi masyarakat. “Ini saya jajal peruntungan. Saya jual alpukat kocok. Beda dengan jus, minuman ini berisi buah yang diiris-iris dan dikocok dengan air, es batu, gula dan susu. Harganya bervariasi, mulai dari Rp5.000-Rp10.000,” kata Hesti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Konsep halal tidak cukup dipahami sebatas label pada kemasan produk. Kehalalan harus dibangun dari niat dan kesadaran pelaku usaha.
Taeyang BIGBANG merilis album Quintessence setelah 9 tahun, berisi 10 lagu dan kolaborasi global lintas musisi.
xAI meluncurkan Grok Build, AI coding berbasis terminal untuk saingi Claude Code dengan fitur plan mode dan sub-agent.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)