Harga Bawang Kating Berangsur Turun

Pedagang sembako, Sanijem sedang berjualan di Pasar Sentolo, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo pada Selasa (9/4/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
10 Mei 2019 10:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Harga bawang putih kating yang beredar di Pasar Wates berangsur turun. Sebelumnya satu kilogram bawang putih kating dihargai Rp54.000 sedangkan kini harganya menjadi Rp43.000 per kilogram.

Pedagang sembako yang juga menjual bawang putih kating di Pasar Wates, Tantri, mengungkapkan penurunan harga terjadi sejak tengah pekan ini. “Awal puasa naik cukup tinggi sampai di atas Rp50.000, sekarang sudah turun lagi,” ujarnya, Kamis (9/5).

Berdasarkan pengalamannya, harga bawang putih kating akan kembali turun hingga pertengahan bulan puasa. Kemudian naik menjelang Lebaran. Kendati begitu, situasi yang terjadi sekarang masih wajar karena mendekati hari besar keagamaan, banyak permintaan terhadap komoditas tersebut.

Tantri mengatakan saat ini stok bawang putih kating masih aman meski ada kabar terjadi kelangkaan namun hal itu tidak ia alami.

Di Pasar Wates, kemarin Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menggelar pasar murah. Beberapa kebutuhan pokok disediakan dengan harga miring, antara lain gula pasir senilai Rp11.000 per kilogram; telur Rp22.500 per kilogram; minyak goreng satu liter Rp22.000 dan beras satu kilogram jenis IR 64 Rp8.500.

“Untuk bawang putih memang tidak disediakan karena stok sedang kosong. Kami [DPKP] menjualnya di TTIC dengan harga Rp40.000 per kilogram,” kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP DIY, Bambang Dwi Wicaksono.

Ketiadaan bawang putih yang dijual dalam pasar murah bukan menjadi persoalan sebab pasar murah yang diadakan di seluruh pasar di DIY ini memang khusus bertujuan untuk menjaga stabilitas harga terutama harga komoditas beras selama bulan puasa.

Bambang mengatakan pasar murah ini akan diselenggarakan hingga pertengahan Mei mendatang. Supaya harga komoditas yang dijual tetap normal, DPKP bekerja sama sama dengan produsen termasuk gabungan kelompok tani di seluruh DIY.

Salah satu pembeli di pasar murah, Nur Suwandari, berharap keberadaan pasar murah mampu
mengakomodir konsumen agar bisa mendapat bahan kebutuhan pokok dengan harga murah. Apalagi, menjelang Lebaran banyak harga komoditas terutama kebutuhan pokok melambung.