Pendidikan Karakter Lewat Gobak Sodor

Siswa-siswi SDN Purwobinangun sedang bermain gobak sodor di sekolah mereka, Rabu (15/5/2019)./ist - dok.tim
15 Mei 2019 22:32 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Permainan tradisional seperti gobak sodor, bukan hanya dapat dimainkan untuk mengisi waktu luang atau sekadar rekreasi semata. Ternyata, permainan yang melibatkan banyak gerak tubuh ini, bisa menjadi sarana mendidik karakter anak.

Hal tersebut selanjutnya mendorong mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Elly Nur Rahmawati, Muhammad Abdul Aziz, Yohana Suryana dan Syifa Alkautsar untuk menelitinya. SDN Purwobinangun merupakan salah satu sekolah yang masih melestarikan permainan tradisional gobak sodor, melalui kegiatan ekstra kurikuler sekolah.

Elly Nur Rahmawati mengatakan karakteristik siswa SD berada pada fase senang mempelajari hal-hal yang konkret tidak abstrak. Terutama kaitannya dalam membentuk karakter, tidak cukup sampai pada pemahaman secara kognitif mengenai pengertian karakter dan nilai-nilai karakter. Sehingga menurut dia, perlu ada inovasi untuk mengembangkan pendidikan karakter.

“Permainan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran penanaman karakter. Melalui bermain siswa diharapkan mampu mengidentifikasi nilai-nilai karakter dalam permainan tersebut," kata dia, Rabu (15/5/2019).

Muhammad Abdul Aziz mengatakan permainan tradisional mengandung beberapa nilai tertentu yang dapat ditanamkan pada diri anak. Gobak sodor adalah permainan yang membutuhkan ketangkasan, kecepatan, kekuatan berlari dan strategi permainan.

"Setiap daerah memiliki cara yang berbeda untuk membentuk budi pekerti siswa, menyesuaikan dengan kebudayaan yang berlaku dan berkembang di daerahnya masing- masing," ungkapnya.

Untuk membentuk karakter siswa, pendidik dapat menggunakan kearifan lokal di tiap daerah tempat mereka berada. Selain dapat melestarikan kearifan lokal yang ada, pendidik juga dapat menanamkan nilai-nilai karakter yang dipraktikan siswa melalui permainan tradisional. Harapannya, nilai-nilai karakter tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari.

Sedangkan Yohana Suryana mengungkapkan cara bermain gobak sodor diawali dengan membagi peserta dalam dua tim, yaitu tim penjaga dan pemain. Setiap orang di tim penjaga membuat pejagaan berlapis dengan cara berbaris ke belakang, sambil merentangkan tangan agar tidak bisa dilalui oleh tim pemain atau lawan.

Satu orang tim penjaga bertugas di garis tengah yang bergerak tegak lurus dari penjaga lainnya. Jarak antara satu penjaga dengan penjaga yang lain kurang lebih sejauh lima langkah, sedangkan jarak rentangan ke samping sejauh empat kali rentangan tangan. Wilayah permainan dan garis jaga ditandai oleh kapur.

"Selama permainan berlangsung, salah satu kaki penjaga harus tetap digaris jaga, ia tidak bisa bergerak bebas untuk menghalangi pemain lawan melaluinya," kata dia.

Jika pemain lawan tersentuh oleh penjaga maka pemain pun gugur. Kemenangan akan diperoleh tim penjaga jika berhasil mengenai seluruh pemain lawan.
Syifa Alkautsar menjelaskan beberapa nilai karakter yang bisa ditemukan dalam permainan gobak sodor tersebut adalah religius, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, demokratis, kepedulian, nasionalisme, kepatuhan, kesadaran hak dan kewajiban serta tanggung jawab.

Nilai religius dalam permainan gobak sodor digambarkan dengan perilaku siswa yang berdoa sebelum bermain, tidak mengejek sesama dengan kata yang kasar. Selain itu, para siswa selalu melakukan permainan dengan selalu tersenyum dan bertegur sapa dengan kawan dan lawan.

Nilai kejujuran dalam permainan disimpulkan dari tindakan jujur siswa selama permainan, siswa selalu bertindak sesuai dengan peran yang ia dapatkan. Nilai kecerdasan masuk dalam nilai karakter gobak sodor, karena siswa dituntut untuk mengambil keputusan secara cepat saat dibutuhkan.

"Permainan gobak sodor menuntut siswa untuk tidak mudah menyerah dan membentuk siswa untuk mampu mengatasi hadangan dari lawan atau mencoba menahan lawan yang mencoba untuk melewatinya," ujarnya.