Produktivitas Cabai Diprediksi Menurun

Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Desa Bugel, Panjatan, Sukarman, membongkar tanaman cabai di lahannya di Desa Bugel, Senin (11/2/2019).-Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
21 Mei 2019 07:07 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Produktivitas cabai petani di pesisir pantai selatan diprediksi menurun di tahun ini mengingat banyak petani yang mengandalkan tanaman lain.

Ketua Kelompok Tani Fisik Pranaji, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Sukarman, mengatakan tiap tahunnya produktivitas cabai di petani cenderung turun. Dalam satu lahannya, petani lebih memilih mengandalkan melon dan semangka dibanding cabai.

“Tiap tahunnya persentase tanaman cabai dibanding melon atau semangka semakin sedikit,” tuturnya, Senin (20/5). Ia menjelaskan pada 2018, persentase cabai lebih banyak dibanding menanam melon atau semangka. Tanaman cabai sampai 70% sedangkan tanaman melon dan semangka hanya 30%.

Di tahun ini, kondisinya malah terbalik. “Tanaman cabai 30 persen, banyaknya yang menanam melon semangka sampai 70 persen,” ungkap Sukarman, Senin (20/5/2019). Kondisi seperti itu membuat tahun ini diprediksi produktivitas cabai semakin menurun.

Dia memaparkan lebih menguntungkan menanam melon semangka dibanding menanam cabai. Biaya produksi tanaman cabai pun dianggap lebih mahal dibanding tanaman melon dan semangka. Ditambah, pada tahun lalu, tempat pelelangan cabai yang diandalkan petani pun berkurang. Dari 25 tempat lelang, hanya 15 tempat yang bertahan, sisanya terkena penggusuran akibat adanya Yogyakarta International Airport (YIA).

Kepala Seksi Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Holtikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Jayeng Purwadi mengatakan petani di pesisir selatan banyak yang mengandalkan pasar lelang cabai. “Dari pasar lelang itu nanti didistribusikan ke Jakarta atau Sumatra,” tuturnya. Berdasarkan datanya, di tahun lalu, jumlah produksi cabai mencapai sekitar 19.000 ton. Lalu produktivitasnya bisa sampai sembilan atau 10 ton per hektarnya.