Pemuda Aktif Membatik di Sanggar Kalpika

Aryaditya di depan produk Sanggar Kalpika, Rabu (22/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
23 Mei 2019 08:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kelurahan Patehan merupakan salah satu destinasi wisata terbesar di Jogja. Terdapat dua objek bersejarah yang menjadi daya tarik wisatawan, yakni Taman Sari dan Sumur Gumuling. Sepanjang tahun, kampung di sekitar objek wisata ini ramai oleh wisatawan dalam dan luar negeri.

Lurah Patehan Kota Jogja, Ngajiemi, mengatakan adanya objek bersejarah di kelurahannya turut mendukung perekonomian warga. Dengan banyaknya kunjungan wisata, banyak warga yang membuka usaha seperti kerajinan, oleh-oleh dan kuliner. "Pembuat batik banyak di sekitar taman sari, sudah turun-temurun," katanya.

Salah satu kelompok seni yang berkontrobusi cukup besar pada kegiatan kesenian di Patehan, tepatnya di Kampung Taman adalah Sanggar Kalpika. Kelompok ini konsisten membuat batik dan turunannya sejak 1972. Pengurusnya saat ini sudah generasi ke delapan.

Lokasinya terletak di timur Sumur Gumuling. Sanggar itu berukuran kira-kira 4X5 meter. Dindingnya penuh lukisan karya anggota sanggar. Di dalamnya, dipajang sejumlah produk buatan Sanggar Kalpika, yang meliputi kain batik, kaos lukir pewarna batik, dan dress batik kontemporer.

Ketua Sanggar Kalpika, Aryaditya, mengatakan saat ini anggota sanggar yang aktif sekitar 15 orang. Mereka adalah pemuda kampung yang semuanya bisa membatik. Meski produk Sanggar Kalpika tidak selalu batik, tapi semua anggota diwajibkan untuk bisa membatik.

Kata Arya, batik adalah tradisi turun-temurun warga sekitar, yang harus dijaga kelestariannya. Ia menyebut apa yang dia lakukan adalah nguri-uri kabudayan jawi. "Jangan sampai diakui negara lain," kata dia.

Ia mengungkapkan, di Jogja ada banyak produsen batik, tapi produsen batik yang pelakunya adalah anak muda, hanya ada di kampungnya. Jenis batik yang dibuat pin cukup beragam, mulai dari batik tulis motif tradisional hingga kaos lukis pewarna batik dengan motif kontemporer.

Ia menjelaskan, kaos lukis tidak bisa disebut batik karena tidak menggunakan dua komponen penting dalam batik, yakni proses lukis dengan malam dan proses perebusan atau lorot. Meski demikian, kaos lukis tetap menggunakan teknik lukis dan pewarna batik.

Sanggar Kalpika sempat mengalami kevakuman, ketika terjadi krisis moneter dan huru-hara 1998. Kondisi ini juga turut menutup banyak sanggar lainnya di Kampung Taman. Baru pada generasi Arya, Sanggar Kalpika bangkit kembali. Meski demikian sanggar di kampung itu tak sebanyak dulu lagi.

Projek kedepan Sanggar Kalpika adalah melukis seluruh dinding permukiman kampung taman sebagai upaya untuk membangkitkan kembali semangat membatik warga Kampung Taman. Sebab, batik merupakan potensi utama untuk oleh-oleh wisatawan yang berkunjung.

Sanggar Kalpika awalnya hanya menjual produknya bagi wisatawan yang berkinjung ke Kampung Taman dan melewati sanggar. Tujuan awalnya sebatas menjadi icon kampung wisata. Tapi karena Arya melihat batik semakin di tinggalkan anak muda dan bisa gawat jika tidak diboomigkan kembali, ia pun berinisiatif untuk merambah pasar online, yakni lewat instagram.

Meski demikian, pasar online bukan sesuatu yang mudah bagi produk Sanggar Kalpika. Orang kebanyakan mengira pakaian lukis itu hanya kaos sablon biasa sehingga dipandang murah. "Karena mereka nggak bisa lihat proses pembuatannya," kata dia.

Kaos lukis buatan Sanggar Kalpika memiliki desain eksklusif, dimana satu desain hanya diterapkan pada satu kaos. Proses lukis dilakukan manual, sehingga satu kaos bisa memeelukan waktu sampai lima hari. Ia membandrol harganya mulai Rp250.000 sampai Rp450.000, tergantung kerumitan desain dan jumlah warna.

Pembeli yang datang langsung ke sanggar bisa melihat bagaimana proses pembuatan kaos, sehingga bisa lebih mengapresiasi dengan harga tinggi. Hasil penjualan akan dibagi tiga, yakni untuk pelukis, kas sanggar dan kampung.