Libur Lebaran, Konsumsi Air Minum Naik 15%

Ilustrasi. - Reuters
30 Mei 2019 16:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Konsumsi air bersih selama libur Lebaran tahun ini diperkirakan naik hingga 15%. Keberadaan pemudik dan wisatawan yang datang menjadi salah satu faktor meningkatnya kebutuhan air bersih.

Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Sembada Sleman Dwi Nurwata mengaku sudah mengantisipasi peningkatan jumlah pengguna air bersih selama musim libur Lebaran. Salah satunya dengan menyiapkan sumber mata air dengan total debit mencapai 385 liter per detik.

Kapasitas tersebut selain untuk melayani sekitar 34.600 pelanggan, juga mampu mengantisipasi kebutuhan pemudik dan wisatawan. Apalagi, katanya, saat ini suplai dari 90 unit penampungan air hujan (PAH) juga disiapkan termasuk pengoptimalan sumur-sumur air dalam tanah.

"Kami prediksi kebutuhan air bersih hanya naik antara 10 hingga 15 persen. Kapasitas volume air sangat cukup,” ujarnya, Rabu (29/5/2019).

Jika terjadi kendala jaringan suplai air di lapangan, dia sudah menyiapkan petugas unit reaksi cepat (URC). Dalam kondisi darurat, tim itu akan bergerak selama 24 jam nonstop. "Tugas utama mereka menindaklanjuti laporan jika terjadi gangguan suplai air. Dengan adanya URC, kami berharap suplai air tetap lancar dan tidak terganggu," kata Dwi.

Tidak hanya itu, PDAM juga menyiagakan mobil tangki air mengantisipasi gangguan selama musim kemarau ini. Ketika terjadi gangguan, tim URC akan melakukan droping air ke pelanggan. "Kami juga menyediakan mobil genset untuk mengantisipasi listrik mati yang mengganggu proses produksi air,” katanya.

Meski menyiapkan sejumlah skenario, namun Dwi mengimbau masyarakat untuk tetap bijak menggunakan air. Penggunaan air secara hemat juga berdampak pada biaya yang dikeluarkan. "Kalau boros menggunakan air ya konsekuensinya tagihan rekening air bisa membengkak," kata Dwi.

Kepala Stasiun Klimatologi Mlati, Reni Kraningtyas juga mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi kekurangan air bersih dan menjaga sumber air yang ada. Pasalnya musim kemarau sudah melanda DIY sejak April dasarian tiga lalu. Sebagian wilayah sudah mengalami kemarau di Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo, Kota Jogja dan wilayah Sleman Utara. "Awal musim kemarau hujan di bawah 10 milimeter. Awal musim kemarau ini di bawah normal," katanya.