74% Kasus DBD di 2 Kecamatan di Jogja Turun karena Metode Ini

Staf WMP Jogja melakukan studi-studi pendukung penelitian di laboratorium. - Ist.
15 Juni 2019 06:47 WIB Budi Cahyana Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) oleh World Mosquito Program (WMP) Jogja berpotensi untuk mengendalikan kasus DBD. Hal tersebut diketahui dari hasil midterm studi implementasi teknologi Aedes aegypti berwolbachia untuk pengendalian DBD di Jogja.

“Meski demikian, kami masih terus berproses untuk mendapatkan hasil akhirnya,” tutur Adi Utarini, Peneliti Utama WMP Jogja melalui keterangan pers yang diterima Harian Jogja, Jumat (14/6/2019).

Pada periode Agustus 2016 hingga Februari 2017, WMP Jogja melakukan peletakan ember berisi telur Aedes aegypti berwolbachia di tujuh kelurahan di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan. Setelah dua tahun, wolbachia terbukti mengurangi 74% kasus DBD di wilayah tersebut dibandingkan dengan wilayah pembanding.

Prof Adi menyampaikan hasil midterm tersebut pada pertemuan pemangku kepentingan nasional yang telah diadakan pada 14 Mei yang lalu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 40 orang dari 13 institusi, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dewan Riset Nasional dan lembaga nasional lainnya yang terkait, Pemerintah Kota Jogja dan Dinas Kesehatan DIY serta Dinas Kesehatan Kota Jogja dan Bantul beserta tim independen. Pertemuan yang digelar pada Ramadan tersebut menghasilkan dua rekomendasi.

Pertama, WMP Jogja diusulkan untuk mulai menyusun rencana studi implementasi bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, sambil menunggu hasil akhir studi pada 2020.

Kedua, Penetapan wilayah studi implementasi dilakukan dengan kriteria yang dibahas bersama dengan pihak program dan Balitbangkes serta dilakukan di beberapa wilayah. “Kami akan lebih intens berdiskusi dengan kementerian pusat untuk membahas studi implementasi,” jelas Prof Adi menyikapi rencana studi implementasi yang akan segera dilaksanakan begitu hasil akhir diperoleh.

Lebih lanjut, Prof Uut, panggilan akrab Adi, menjelaskan studi tersebut akan dilaksanakan di tiga hingga empat wilayah di luar Kota Jogja. DBD masih menjadi permasalahan kesehatan di Kota Jogja. Dinas Kesehatan Kota Jogja melansir data peningkatan kasus yang terjadi. Hingga akhir Mei terdapat 335 kasus. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah kasus pada periode yang sama tahun lalu, 51kasus.

Meski demikian tidak terjadi fatalitas (angka kematian) yang tidak diinginkan.Untuk meningkat kesadaran bersama tentang bahaya DBD, negara-negara ASEAN menetapkan 15 Juni sebagai Hari Dengue se-ASEAN (ASEAN Dengue Day). Tema yang diambil tahun ini adalah End dengue: starts with me. Tema ini menggarisbawahi pentingnya keterlibatan semua sektor dalam upaya pengendalian DBD.

Dalam rangka memperingatinya, WMP Jogja menggelar kompetisi cipta gerak dan lagu bertajuk Goyang Gayeng Sehat Agawe Mulyo. Gelaran yang dilaksanakan bekerja sama dengan Dinkes Kota Jogja tersebut telah dimulai sejak 3 Juni 2019.

“Kami mengajak seluruh warga Yogya untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini,” kata Equatori Prabowo, Koordinator Komunikasi dan Penyertaan Masyarakat WMP Jogja. Lebih lanjut ia mempersilahkan warga mengakses media sosial WMP Jogja untuk mengetahui tata cara mengikuti kompetisi berhadiah total Rp12 juta.