Desa Wukirsari Bantul Perkokoh Persatuan Lewat Kirab Budaya

Lurah Desa Wukirsari Susilo Hapsoro (kanan) memberikan potongan tumpeng catur manunggal kepada Ketua DPRD tingkat II Hanung Raharjo (kiri) pada acara perayaan HUT ke-62 Desa Wukirsari, Minggu (16/6/2019). - Harian Jogja/Kiki Luqmanul Hakim
16 Juni 2019 21:47 WIB Kiki Luqman Hakim (ST 16) Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL–Pemerintah Desa Wukirsari menggelar kirab budaya dengan tajuk Gelar Budaya dalam Rangka Hari Jadi Wukirsari Memperkokoh Kebhinekaan Tunggal Ika untuk merayakan HUT ke-62 Wukirsari. Acara ini berlangsung  pada Jumat (14/6) hingga Minggu (16/6).

Perayaan hari jadi ini adalah perayaan pertama kali yang digelar oleh pemerintahan desa. Ketua Panitia Widodo Supranoto menyampaikan acara kali ini mengangkat tema besar Gelar Budaya Dalam Rangka Hari Jadi Wukirsari Memperkokoh Kebhinekaan Tunggal Ika. “Kenapa kami mengangkat tema itu, karena kami ingin desa ini tetap menjaga budayanya tanpa melupakan Bhineka Tunggal Ika yang dimiliki negara kita ini,” kata Widodo ketika ditemui Harian Jogja pada Minggu (16/6) di sela-sela acara.

Acara ini dibuka dengan senam sehat lalu dilanjutkan dengan ziarah ke makam-makam para lurah terdahulu pada hari Jumat lalu serta Sabtu adalah acara sarasehan. Sedangkan pada Minggu kirab budaya dari empat kelurahan lama dan 16 padukuhan yang meramaikan acara tersebut. “Peserta kami ambil jadi kelurahan lama yang setiap kelurahan mempunyai empat padukuhan, jadi totalnya ada enambelas padukuhan, setiap kelurahan ada tujuh puluh lima orang yang berkontribusi dalam acara ini,” lanjut Widodo.

 

Catur Manunggal

Di dalam acara puncak sendiri ada sebuah acara upacara khusus pemotongan tumpeng catur manuggal. Tumpeng ini menganalogikan empat kelurahan lama bergabung menjadi satu menuju pemerintahan baru. “Sejarah Wukirsari kan sangat unik, bahwa desa ini muncul atas penggabungan dari empat kelurahan yang menjadi satu. Kelurahan Singosaren, Pucung, Giriloyo, Pajimatan. Makanya analogi tumpeng Catur manunggal diambil dari sejarah itu,” katanya.

Widodo juga mengatakan acara ini sudah dipersiapkan sejak tujuh lalu, selama itu pihaknya melakukan pencarian sejarah-sejarah tentang Wukirsari yang valid dan untuk disebar luaskan kepada seluruh warga dan juga Indonesia. “Dalam acara ini kami juga memperkenalkan sejarah desa ini kepada seluruh warga agar nantinya akan cucu kami mengetahui asal desanya dan juga kebuyaannya yang harus dijaga dan juga dipertahankan turun temurun,” ucapnya.

Selain itu tujuan acara perayaan ini adalah untuk memperkenalkan bahwa Imogiri masih termasuk salah satu kawasan heritage yang artinya dalam bahasa Jawa artinya adalah pusaka yang harus dijaga. “Apa yang harus dijaga? Seluruh kebudayaannya dan seluruh tradisinya juga harus dijaga selama-lamanya,” lanjut Widodo.

Turut hadir Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Lurah Desa Wukirsari Susilo Hapsoro serta Ketua DPRD tingkat II Bantul Hanung Raharjo. Susilo berharap dengan adanya acara ini Desa Wukirsari mampu lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas dan juga nama Wukirasari mampu mendunia. “Peringatan hari ini dilakukan untuk menambah kecintaan kita [semua warga Wukirsari] kepada Desa Wukirsari, Dengan cinta itu ayo kita bangun, kita dukung, desa ini menjadi lebih baik lagi, lebih maju lagi, lebih sejahterah dan mampu dikenal oleh seluruh warga Indonesia dan juga dunia,” katanya.

Selain itu Susilo juga berharap dengan adanya perayaan ini, seluruh anggota pemerintah desa mampu menjadi lebih baik lagi dan mampu menjaga amanah para warga Wukirsari yang termasuk warga daerah Haritage. (