Ini Modus Pungli yang Sering Dilakukan Sekolah..

Ilustrasi pungli - Harian Jogja
25 Juni 2019 11:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Praktek pungutan liar di sekolah dengan berbagai modus seperti buku paket, seragam dan penahanan ijazah masih marak terjadi. Padahal, dalam UU No 20/2003, pemerintah dan pemerintah daerah telah menjamin terselenggaranya pendidikan dasar tanpa dipungut biaya dan telah dianggarkan minimal 20% APBN serta APBD yang disalurkan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Direktur Pegiat Pendidikan Untuk Indonesia (Pundi), Imam Sumarlan, mengatakan selain penahanan ijazah, yang jarang terungkap adalah pungutan liar dengan jual-beli buku pelajaran yang tidak sesuai aturan.

“Jual-beli buku menjadi sasaran empuk bagi oknum-oknum pendidikan,” katanya, Senin (24/6/2019).

Ia melihat dengan kebijakan Permendikbud tentang penganggaran 20% untuk alokasi buku pelajaran, seharusnya peserta didik bisa mendapatkannya dengan terjangkau atau bahkan gratis. Ia menyebutkan, dengan Harga Eceran Tertinggi (HET), buku pelajaran bisa dipeloreh dengan total Rp124.000, tapi prakteknya banyak yang menjual buku di Rp800.000 hingga Rp1 juta.

Hal serupa juga terjadi pada jual-beli seragam. Yuliani menceritakan tetangganya sampai harus meminjang uang dari bank plecit untuk melunasi seragam sekolah anaknya seharga Rp2 juta. “Padahal orangtuanya Cuma buruh mencari rosok,” katanya.

Ia menyebutkan, harga seragam sekolah jika beli di toko tidak sampai Rp600.000 untuk enam stel, dan sudah jadi tanpa perlu menjahit lagi. “Beli di pasar lebih murah daripada di sekolah yang masih berupa kain. Padahal seharusnya sekolah tidak boleh menjual seragam, termasuk di koperasi karena masih milik sekolah.”