PPDB SMA/SMK: Hari Terakhir, Masih Banyak Orang Tua di Sleman & Jogja Kebingungan

Ilustrasi PPDB - Harian Jogja/Uli febriarni
26 Juni 2019 19:02 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) 2019 tingkat SMK/SMK telah berakhir pada Rabu (26/6/2019) hari ini. Beberapa orang tua masih bingung dengan sistem pendaftaran yang baru.

Wakil Kepala Kesiswaan dan Koordinator PPDB SMAN 1 Depok Sleman Eko Yuliyanto mengatakan beberapa orang tua masih  berkonsultasi masalah PPDB.

“Antara lain anaknya tidak muncul di pilihan 1 maupun pilihan 2, mereka masih bingung kenapa bisa terjadi demikian,” kata Eko, Rabu.

Ada juga orang tua yang masih menunggu dan waswas untuk mendaftar karena nilainya masih mepet dengan batas terendah.

“Hal lain yang ditemui di sekolah tadi, malah ada orang tua yang sudah percaya diri diterima sehingga langsung menanyakan apa saja syarat-syarat untuk daftar ulang,” kata dia.

Kuota pendaftar di SMAN 1 Depok terpenuhi, yakni 144 siswa IPA dan 72 siswa IPS.

“Total yang mengambil token di SMAN 1 Depok sebanyak 325 calon pendaftar.”

Eko mengatakan PPDB zonasi di DIY relatif sudah berjalan baik. Kekurangan yang perlu diperbaiki adalah sosialisasi. “Pemahaman masyarakat yang kurang akhirnya menimbulkan kepanikan, antre di gerbang sekolah sejak malam, kriteria seleksi, dan sebagainya,” ucap dia.

Kepala Sekolah SMAN 1 Pakem Kristya Mintarja juga mengatakan belum adanya pemahaman yang utuh di kalangan orang tua calon murid dalam petunjuk teknis (juknis) PPDB online tahun ini. “Tidak hanya orang tua, tetapi calon siswa juga,” ujar dia.

Kristya mengatakan  juknis PPDB online harus diterbitkan jauh hari sebelum pelaksanaan agar masyarakat bisa memahami prosesnya dengan baik. “Agar masyarakat tidak banyak mengalami kebingungan.”

Ketua PPDB SMKN 2 Jogja, Untung Suprapto, mengatakan kendala utama dalam PPDB adalah sosialisasi.

“Orang tua calon murid yang belum sepenuhnya mengerti peraturan sistem PPDB tahun ini. Kalau 2018 cuma berdasarkan pilihan, sekarang tambah zonasi dan pilihan, itu biasanya yang membingungkan orang tua dan calon murid.”

SMKN 2 Jogja meyediakan kuota 828 siswa untuk sembilan kompetensi keahlian. Setiap kompetensi keahlian terdiri dari satu sampai empat kelas.

SMKN 2 Jogja juga akan menerima difabel. Namun, sekolah akan terlebih dahulu memberi gambaran kepada calon siswa terkait kondisi di sekolah, sehingga calon siswa dan orang tua bisa mempertimbangkan apakah mau masuk atau tidak.